MUARA ENIM — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Muara Enim memasuki fase kritis. Menghadapi puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Juli-Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah menetapkan status siaga darurat selama 123 hari, terhitung sejak 1 Mei lalu.
Kepala Pelaksana BPBD Muara Enim, Abdurrozieq Putra, mengatakan pihaknya tidak hanya mengandalkan mobil pemadam kebakaran konvensional. Sebanyak 12 unit kendaraan roda dua dan roda tiga telah dimodifikasi menjadi motor pemadam api.
Motor-motor ini dirancang khusus untuk menjangkau titik-titik api di lahan gambut, perkebunan, atau area terpencil yang akses jalannya sempit dan berlumpur. "Motor penyemprot air ini disiapkan untuk pemadaman api di daerah yang sulit dijangkau kendaraan roda empat," ujar Abdurrozieq saat dikonfirmasi, Minggu.
Alat ini juga menjadi solusi untuk kebakaran di permukiman padat penduduk. Di gang-gang sempit perkotaan Muara Enim, mobil damkar sering kali kesulitan bermanuver. Dengan motor ini, petugas bisa merespons lebih cepat.
Cara kerja motor ini cukup sederhana namun efektif. Sebuah pompa keong dipasang pada mesin kendaraan. Pompa tersebut mampu menyedot air dari sungai terdekat atau mobil suplai damkar, lalu menyemprotkannya ke titik api.
Penetapan status siaga darurat sejak 1 Mei merupakan langkah antisipasi dini. Abdurrozieq menjelaskan, prediksi BMKG menunjukkan puncak musim kemarau di Sumatera Selatan akan terjadi pada Juli-Agustus. Pada periode tersebut, potensi titik api meningkat drastis karena kondisi lahan yang kering.
"Status ini berlaku selama 123 hari hingga 31 Agustus 2026. Kami ingin semua peralatan dan personel sudah siap sebelum api mulai menyala," katanya.
Dengan kesiapan 12 motor pemadam dan puluhan unit pompa air, BPBD Muara Enim berharap respons pertama terhadap karhutla bisa lebih cepat. Targetnya, api bisa dipadamkan sebelum meluas dan menimbulkan kabut asap yang mengganggu warga.