PALEMBANG — Realisasi investasi di Sumatera Selatan pada Januari-Maret 2026 mengalami kontraksi. Dari total Rp 12,96 triliun yang tercatat, porsi penanaman modal asing (PMA) hanya menyumbang Rp 2,54 triliun, sedangkan PMDN mendominasi dengan angka Rp 10,43 triliun.
Eko Agusrianto menyebutkan secara year on year, realisasi PMA turun drastis dari Rp 3,88 triliun menjadi Rp 2,54 triliun atau anjlok 34,54 persen. "Penurunan PMA, salah satunya dipicu oleh konflik global, yang membuat investor kesulitan mengimpor," ujarnya, Kamis (4/6/2026).
Sebaliknya, investasi dalam negeri menunjukkan tren sebaliknya. PMDN meningkat dari Rp 9,84 triliun menjadi Rp 10,43 triliun, naik 5,99 persen. Eko menjelaskan, faktor utama pendorong kenaikan ini adalah meningkatnya kepatuhan pelaku usaha dalam menyampaikan laporan kegiatan penanaman modal melalui sistem OSS.
Tahun ini, Pemerintah Provinsi Sumsel menargetkan investasi sebesar Rp 45,68 triliun sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Sementara itu, target yang diberikan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI kepada Sumsel lebih tinggi, yakni Rp 73,7 triliun. Capaian triwulan I yang baru mencapai Rp 12,96 triliun masih menyisakan pekerjaan rumah besar untuk mengejar target tersebut.
Realisasi PMA terbanyak berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang mencapai Rp 1,21 triliun atau 47,76 persen dari total PMA. Disusul Muara Enim Rp 535 miliar (21,11 persen), Palembang Rp 244 miliar (9,65 persen), Banyuasin Rp 237 miliar (9,35 persen), dan Musi Rawas Rp 93 miliar (3,7 persen).
Dari sisi sektor, industri kertas dan percetakan menjadi primadona dengan nilai investasi Rp 1,2 triliun, diikuti sektor listrik, gas, dan air sebesar Rp 407 miliar.
Berbeda dengan PMA, investasi dalam negeri paling besar mengalir ke Kabupaten Musi Banyuasin dengan nilai Rp 2,31 triliun (22,11 persen). Disusul OKI Rp 2,08 triliun (19,94 persen), Palembang Rp 1,96 triliun (18,84 persen), Muara Enim Rp 1,06 triliun (10,13 persen), dan PALI Rp 832 miliar (7,98 persen).
Sektor pertambangan menjadi yang paling diminati investor dalam negeri dengan nilai Rp 2,7 triliun. Sektor tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan menyusul dengan Rp 2,07 triliun, serta industri makanan Rp 1,62 triliun. Data ini menunjukkan bahwa basis ekonomi Sumsel masih bertumpu pada sumber daya alam dan industri pengolahan hasil bumi.