Himbara Kencang, DPR Dorong BUMN Buyback Saham di Tengah Pasar Modal Tertekan

Penulis: Fakhrudin Akbar  •  Selasa, 09 Juni 2026 | 13:06:02 WIB
Wakil Ketua DPR dorong bank Himbara lakukan buyback saham di tengah tekanan pasar modal.

SUMATERA SELATAN — Tekanan di bursa saham global dalam beberapa bulan terakhir membuat sejumlah saham BUMN ikut terperosok. Namun, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menilai kondisi ini justru menjadi peluang. Ia mendorong perusahaan pelat merah, khususnya bank-bank Himbara, untuk melakukan aksi buyback atau pembelian kembali saham yang saat ini diperdagangkan di level yang dinilai menarik.

“Kami sudah saatnya berdiskusi bagaimana kemudian pada kesempatan yang tepat, akan kembali buyback atau membeli kembali saham-saham yang sebenarnya di pasar,” kata Dasco di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (9/6).

Fundamental Himbara: Kredit Tumbuh 20%, NPL di Bawah 2%

Dorongan ini muncul setelah pertemuan antara DPR, jajaran BUMN, BP BUMN, BPJS Ketenagakerjaan, Taspen, Indonesia Investment Authority (INA), dan sejumlah perusahaan asuransi. Dalam diskusi itu, terungkap bahwa fundamental bank-bank Himbara saat ini berada dalam kondisi terbaik dalam beberapa tahun terakhir.

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang juga Ketua Himbara, Putrama Wahju Setyawan, membeberkan data kinerja. Rata-rata pertumbuhan kredit Himbara mencapai sekitar 20 persen. Dana pihak ketiga (DPK) bahkan tumbuh lebih tinggi, di kisaran 20 persen hingga 30 persen.

Dari sisi likuiditas, rasio loan to deposit ratio (LDR) berada di rentang 88-90 persen, yang menandakan kondisi sehat. Kualitas aset pun terjaga. Cadangan kerugian kredit (loan loss reserve) dan biaya kredit (credit cost) disebut terkendali. Rasio kredit bermasalah (NPL) rata-rata masih di bawah level 2 persen.

“Saat ini kinerja Himbara secara fundamental sangat bagus sehingga rasanya tidak perlu ada kekhawatiran, keraguan terhadap kondisi fundamental di BEI,” tegas Putrama.

Buyback Bisa Jadi Sinyal Positif ke Pasar

Aksi buyback biasanya dilakukan perusahaan ketika harga saham dinilai undervalued atau terlalu murah dibanding nilai intrinsiknya. Langkah ini tidak hanya menyerap tekanan jual di pasar, tetapi juga mengirimkan sinyal kepercayaan dari pihak manajemen dan pemegang saham pengendali.

Dengan kondisi likuiditas Himbara yang ketat namun tetap sehat, serta kredit yang tumbuh dua digit, wacana buyback ini dinilai realistis. Jika terealisasi, aksi korporasi ini bisa menjadi katalis positif di tengah pasar modal yang sedang babak belur.

Reporter: Fakhrudin Akbar
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top