PALEMBANG — Dua puluh empat titik api atau firespot terdeteksi menyebar di sejumlah wilayah Sumatera Selatan, memaksa BNPB mengerahkan armada udara untuk pemadaman cepat. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyatakan operasi udara ini menyasar titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau tim darat.
"Intervensi penyiraman air dari langit ini menjadi sangat krusial," kata Abdul dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu. Akumulasi lahan terbakar di Sumsel sejak awal tahun hingga 8 Juni 2026 mencapai 182,54 hektare — angka yang terus bertambah seiring meluasnya musim kemarau.
Selain Sumsel, eskalasi karhutla juga melanda Aceh dan Riau. Di Nagan Raya, Aceh, kebakaran menghanguskan 98 hektare lahan di dua kecamatan. Tim gabungan BPBD, TNI, Polri, dan relawan mengerahkan dua unit mesin pompa air, dan separuh area terbakar kini berhasil dijinakkan. Sementara di Riau, kebakaran lahan seluas dua hektare telah padam sepenuhnya.
BNPB mengkhawatirkan perluasan zona kering yang diproyeksikan BMKG. Hingga akhir Mei 2026, kekeringan melanda 200 zona musim (11,83 persen daratan). Lonjakan drastis terjadi pada Juni ini dengan masuknya 198 zona musim baru, setara 31,6 persen luas daratan — mencakup DKI Jakarta bagian selatan hingga sebagian besar Kalimantan.
Memasuki Juli, kemarau merambah 66 zona musim lainnya: Jambi bagian barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian Sulawesi, hingga Maluku Utara. Sebaliknya, BMKG mendeteksi anomali basah di tujuh zona musim (0,68 persen daratan), yakni Bengkulu, Gorontalo, dan sebagian kecil NTT.
Abdul memastikan BNPB mengintensifkan koordinasi dengan BPBD di seluruh klaster rawan Sumatera. "Kesiapan mesin pompa darat dan patroli udara harus bergerak simultan sebelum memasuki puncak kemarau," ujarnya, merujuk analisis BMKG. Langkah ini menjadi kunci mengingat 24 titik api di Sumsel baru sebagian kecil dari ancaman karhutla nasional yang terus meluas.