BATURAJA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan prevalensi ketidakcukupan pangan di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan dalam lima tahun terakhir mencapai 3,37 poin persen. Kondisi ini menggambarkan bahwa jumlah penduduk yang asupan energinya di bawah kebutuhan minimum terus berkurang, meski belum merata di semua wilayah.
Menurut Badan Pangan Nasional (Bapanas), PoU mengukur proporsi penduduk yang secara rutin mengonsumsi makanan dalam jumlah tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan energi hidup normal, aktif, dan sehat. Indikator ini menjadi alat utama untuk membaca tingkat kerawanan pangan dan gizi di suatu daerah.
Artinya, pada 2025, kurang dari 9,43 persen total penduduk OKU Selatan masih mengalami defisit energi harian. Sisa populasi lainnya dinilai telah mencukupi kebutuhan kalori minimalnya.
Dari 17 kabupaten/kota di Sumatera Selatan, OKU Selatan menempati urutan ke-16 dalam daftar prevalensi terendah. Hanya Kabupaten Empat Lawang yang berada di bawahnya dengan angka 11,07 persen.
Wilayah dengan PoU terkecil adalah Kota Palembang (3,58%), disusul Musi Banyuasin (3,59%), dan Lahat (4,64%). Ogan Komering Ulu sendiri, yang menjadi kabupaten induk, mencatat angka 7,07 persen.
Berikut urutan prevalensi ketidakcukupan pangan terendah di Sumatera Selatan pada 2025 berdasarkan data BPS:
Meski tren menunjukkan perbaikan, posisi OKU Selatan yang berada di papan bawah mengindikasikan masih ada pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Akses terhadap pangan bergizi, daya beli masyarakat, serta distribusi pangan di wilayah perdesaan menjadi faktor yang perlu diperkuat.
Penurunan 3,52 poin persen dalam setahun terakhir setidaknya memberi sinyal positif. Namun, selisih 1,54 poin persen dengan rata-rata nasional menunjukkan percepatan program ketahanan pangan masih diperlukan.