PALEMBANG — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pengeluaran per kapita penduduk Sumatera Selatan pada 2025 mencapai Rp1.283.538 per bulan. Angka ini merupakan gabungan belanja untuk makanan sebesar Rp691.256 dan kebutuhan bukan makanan sebesar Rp592.283.
Penurunan tipis ini terjadi di tengah tekanan ekonomi yang masih membayangi rumah tangga di provinsi tersebut. Pada 2024, rata-rata pengeluaran warga Sumsel masih berada di angka Rp1.289.001 per bulan.
Komposisi pengeluaran penduduk Sumatera Selatan pada 2025 terbagi menjadi 53,86 persen untuk makanan dan 46,14 persen untuk kebutuhan bukan makanan. Porsi belanja makanan yang masih dominan ini, menurut teori ekonomi Engel, menandakan tingkat kesejahteraan yang lebih rendah.
Semakin besar porsi pengeluaran untuk makanan, semakin kecil ruang fiskal rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan, atau tabungan. Pola ini umum terjadi di daerah dengan pendapatan per kapita yang belum tinggi.
Dengan angka Rp1,28 juta per bulan, Sumatera Selatan menempati peringkat ke-9 dari 10 provinsi di Pulau Sumatera. Posisi ini hanya lebih baik dari satu provinsi tetangga di bagian selatan pulau tersebut.
Secara nasional, Sumsel berada di peringkat ke-33 dari 37 provinsi. Artinya, daya beli masyarakat Sumsel masih berada di kelompok bawah jika dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Data ini bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS yang dirilis pada 2025.
BPS mencatat perubahan pengeluaran per kapita di Sumatera Selatan dalam dua tahun terakhir. Pada 2024, total pengeluaran tercatat Rp1.289.001 per bulan, dengan rincian Rp692.350 untuk makanan dan Rp596.651 untuk bukan makanan.
Memasuki 2025, pengeluaran untuk makanan turun menjadi Rp691.256, sementara belanja bukan makanan juga berkurang menjadi Rp592.283. Penurunan ini terjadi pada hampir seluruh komponen pengeluaran rumah tangga di provinsi tersebut.