FGD Tanjak Sumsel Hasilkan Empat Bentuk Pakem Budaya Melayu, Sejarawan Ungkap Filosofi Simbol Kehormatan

Penulis: Fakhrudin Akbar  •  Minggu, 26 Juli 2026 | 14:01:31 WIB

Sejarawan Sumsel Dr. Kemas Ari Panji mengungkapkan, tradisi tanjak diyakini sudah dikenal sejak masa Sriwijaya, meski perlu kajian lebih lanjut. Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, tanjak menjadi bagian penting busana kebesaran. Setidaknya empat bentuk tanjak berkembang di Sumsel: Tanjak Kepodang, Belah Mumbang, Meler, dan Rantau Ayaw. Masing-masing memiliki lipatan dan simpul berbeda yang merepresentasikan nilai luhur budaya Melayu.

“Tanjak bukan sekadar penutup kepala. Ia simbol kehormatan, kewibawaan, dan identitas sosial. Istilah tanjak berasal dari kata ‘nanjak’ dalam bahasa Palembang yang berarti naik, menjadi doa agar pemakainya memperoleh peningkatan martabat dan rezeki,” kata Kemas Ari dalam pemaparannya.

Dimensi Spiritual dan Aturan Penggunaan

Budayawan Vebri Al Lintani menambahkan, letak tanjak di bagian kepala menjadikannya mahkota kehormatan yang mengingatkan manusia menjunjung nilai ketuhanan. “Tanjak dibentuk melalui lipatan dan simpul tertentu. Setiap bentuk punya aturan dan filosofi yang menjadi bagian tradisi masyarakat Melayu,” ujarnya.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel Rudi Irawan, FGD ini menjadi forum menyamakan persepsi mengenai filosofi, bentuk, hingga tata cara penggunaan. “Pelestarian budaya tidak cukup hanya menjaga bentuk fisiknya, tetapi juga mempertahankan nilai, filosofi, dan makna yang terkandung di dalamnya agar tetap hidup di tengah masyarakat,” kata Rudi.

Urgensi Standar Pakem untuk Agenda Resmi

Anggota TGUPP Sumsel Kemas Khoirul Mukhlis menilai, kesepahaman ini dibutuhkan agar penggunaan tanjak memiliki acuan yang sama, baik dalam kegiatan budaya maupun agenda resmi pemerintahan. Tanjak umumnya dibuat dari kain songket atau batik khas Palembang.

“Hasil FGD ini diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan pemerintah daerah sekaligus memperkuat tanjak sebagai identitas budaya Sumatera Selatan yang diwariskan kepada generasi mendatang,” pungkasnya.

Reporter: Fakhrudin Akbar
Sumber: relung.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top