PALEMBANG — Sebanyak 159 personel kepolisian dari jajaran Polda Sumatera Selatan hingga polres resmi disiapkan menjadi garda terdepan edukasi digital. Mereka akan diterjunkan ke sekolah-sekolah untuk mengajarkan penggunaan kecerdasan buatan secara aman dan bertanggung jawab kepada pelajar.
Pembukaan pelatihan berlangsung di Auditorium Lantai 7 Gedung Presisi Mapolda Sumsel, Kamis (6/8/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Quick Wins Presisi Akselerasi Transformasi Polri untuk Masyarakat Triwulan III TA 2026.
Kapolda Sumsel menegaskan bahwa perkembangan teknologi AI saat ini ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, teknologi ini memberikan efisiensi luar biasa bagi pelajar dalam mencari ilmu dan mengembangkan kreativitas.
Namun di sisi lain, risiko baru mengintai. Tanpa pemahaman yang cukup, AI berpotensi disalahgunakan untuk aksi kriminal.
"Perkembangan artificial intelligence membawa risiko baru berupa penyebaran hoaks, penipuan digital, deepfake, voice cloning, judi daring, hingga perundungan siber yang dapat mengancam generasi muda," tegas Irjen Pol. Sandi Nugroho dalam sambutannya.
Peserta pelatihan tidak hanya berasal dari satu fungsi. Mereka datang dari berbagai satuan kerja dengan komposisi beragam, mulai dari unsur pimpinan hingga pelaksana lapangan.
Ratusan personel ini nantinya bertugas memberikan pemahaman mendalam kepada masyarakat, khususnya pelajar, tentang cara memanfaatkan kecerdasan buatan secara etis dan aman.
Langkah ini menandai pergeseran peran kepolisian di era digital. Polri tidak hanya bertindak sebagai penegak hukum di ruang siber, tetapi juga mengambil peran preventif untuk melindungi generasi penerus bangsa.
Melalui program "Paham AI", diharapkan tercipta ruang digital yang lebih sehat, aman, dan kondusif di wilayah Sumatera Selatan. Para pelatih yang telah dibekali materi akan menjadi ujung tombak dalam menyebarkan literasi digital ke sekolah-sekolah di kabupaten dan kota.