Brimob Polda Sumatera Selatan menerjunkan tim ke Desa Teluk Limau, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan gambut seluas 80 hektare. Operasi yang berlangsung sejak Sabtu (5/9) ini memerlukan penanganan khusus karena bara api bertahan di kedalaman satu hingga 1,5 meter di bawah permukaan tanah.
PALEMBANG — Upaya pemadaman kebakaran lahan gambut di Muara Enim tidak bisa dilakukan dengan cara konvensional. Tim Satgas Penanganan Karhutla Polda Sumatera Selatan menerapkan teknik spiral, yakni penyiraman dan perendaman secara memutar dari luar area menuju titik pusat api.
Komandan Satuan Brimob Polda Sumsel Komisaris Besar Polisi James Parlindungan Hutagaol mengatakan, metode ini dipilih untuk menekan pergerakan bara di bawah lapisan tanah sebelum personel berani masuk ke titik dengan aktivitas panas lebih tinggi.
Pemadaman dilakukan menggunakan jet pump yang mengalirkan campuran air dan formula crossfire Polri. Cairan ini diendapkan selama dua hingga tiga jam agar meresap hingga ke lapisan gambut terdalam.
"Kebakaran pada lahan gambut membutuhkan pola khusus karena bara api dapat bertahan dan merambat di bawah permukaan tanah dengan kedalaman diperkirakan mencapai satu hingga satu setengah meter," kata James di Palembang, Senin.
Setelah proses perendaman selesai, personel melanjutkan tahap scanning terhadap sisa titik bara. Tim mendekati lokasi yang memunculkan asap putih atau pendaran bara, lalu mengurai lapisan gambut dengan garpu sebelum menyemprotkannya menggunakan jet shooter backpack.
"Bara kecil tetap harus ditangani karena dapat terbawa angin dan memicu api di area kering lainnya. Oleh karena itu, setelah perendaman, personel melakukan scanning satu per satu," ujar James.
Operasi pemadaman tetap berlanjut hingga malam hari. Kondisi gelap justru membantu petugas mengidentifikasi visual pendaran bara di sela-sela permukaan gambut secara lebih akurat dibandingkan saat siang hari.
Kabid Humas Polda Sumsel Komisaris Besar Polisi Nandang Mu’min Wijaya menegaskan bahwa penanganan karhutla di lahan gambut tidak cukup hanya memadamkan api di permukaan. Dibutuhkan strategi berlapis untuk memastikan bara yang tersimpan di dalam tanah benar-benar padam.
"Yang menjadi perhatian bukan hanya api di permukaan, tetapi juga bara yang masih tersimpan di dalam lapisan gambut. Penanganan berlapis mulai dari penyiraman, perendaman, hingga scanning titik bara ini terus kami optimalkan guna mencegah api kembali muncul," tutur Nandang.
Kebakaran lahan gambut di Sumatera Selatan kerap menjadi persoalan tahunan, terutama saat musim kemarau. Lapisan gambut yang tebal membuat api sulit dipadamkan total dan berisiko memicu kabut asap jika tidak ditangani tuntas sejak dini.