SUMATERA SELATAN — Pengguna media sosial di Indonesia tengah ramai membuat foto bergaya retro 1980-an lewat bantuan artificial intelligence. Cukup memasukkan satu foto dan perintah tertentu, hasil bergaya vintage langsung muncul dalam hitungan detik.
Bersamaan dengan tren itu, beredar narasi yang menyebut satu kali prompt AI menghabiskan air sebanyak dua botol mineral. Klaim ini memicu kekhawatiran sebagian pengguna yang mempertanyakan dampak lingkungan dari setiap percakapan dengan chatbot atau generator gambar.
Akun Instagram @voxnetizens meluruskan klaim tersebut lewat video yang dikutip Sabtu (12/9/2026). Menurut penjelasan akun itu, angka 500 mililiter air yang beredar berasal dari riset lama dan bukan untuk satu pertanyaan.
"Angka 2 botol aqua itu jujur salah konteks banget ya. Karena itu dari riset lama yang bilang kalau sekitar 500 ml air buat 20-50 pertanyaan. Bukan 1 prompt doang," jelas @voxnetizens.
Jika dihitung per prompt, konsumsi airnya jauh lebih kecil. "Jadi kalau dibagi per prom, mungkin cuma sekitar 2-5 sendok teh air, bukan 1 botol penuh," lanjutnya.
Penelitian yang lebih baru menunjukkan angka berbeda. Konsumsi air Google Gemini diperkirakan sekitar 0,26 mililiter per prompt, atau setara lima tetes air.
"Data lebih baru justru bilang kalau Google Gemini memakan 0,26 ml per prom. Kurang lebih kayak 5 tetes air gitu ya," katanya. Sementara OpenAI disebut berada di kisaran 0,3 mililiter per prompt.
Dengan angka tersebut, satu percakapan atau pembuatan gambar AI tidak bisa disamakan dengan menghabiskan satu botol air mineral. "Jadi sekali nge-chat itu gak bakalan bikin galon jebol kok," ujarnya.
Air yang dikaitkan dengan teknologi AI tidak berarti chatbot secara langsung mengonsumsi air. Kebutuhan itu muncul dari infrastruktur yang menjalankan layanan, terutama pusat data.
Server AI bekerja dengan beban komputasi tinggi dan menghasilkan panas. Sistem pendingin diperlukan agar perangkat beroperasi dengan aman. "AI itu haus bukan karena chatbotnya minum air. Tapi karena server AI yang panas banget," kata @voxnetizens.
Air dipakai untuk pendinginan server dan pembangkit listrik. "Jadi bukan air dituang ke komputer ya IT people," tegasnya.
Data International Energy Agency (IEA) yang dikutip dalam kajian soal jejak air pusat data menunjukkan konsumsi tidak langsung dari pembangkit listrik bisa lebih besar dibanding penggunaan langsung untuk pendinginan.
Pada 2023, konsumsi air pusat data secara global diperkirakan mencapai 560 miliar liter. Sekitar 373 miliar liter di antaranya berkaitan dengan penggunaan tidak langsung untuk pembangkit listrik, sedangkan sekitar 140 miliar liter digunakan langsung di fasilitas pusat data.
Artinya, setiap kali pengguna berinteraksi dengan AI, jejak airnya berasal dari dua sisi: pemakaian langsung di pusat data dan pemakaian tidak langsung lewat penyediaan listrik.
Penelitian yang mencoba menghitung jejak air aktivitas AI memang belum menghasilkan angka tunggal. Hasilnya bervariasi karena dipengaruhi jenis dan ukuran model, panjang perintah, lokasi pusat data, kondisi cuaca, serta teknologi pendinginan yang dipakai.
Model yang lebih besar dan prompt yang lebih panjang membutuhkan komputasi lebih berat, sehingga panas yang dihasilkan dan kebutuhan pendinginannya ikut naik. Pusat data di wilayah beriklim panas juga cenderung memakai lebih banyak air dibanding fasilitas di daerah dingin.
Bagi pengguna di Indonesia, temuan ini menjadi konteks penting di tengah derasnya adopsi layanan AI generatif untuk kebutuhan konsumen maupun bisnis digital. Klaim soal konsumsi air perlu dibaca dengan angka per prompt yang benar, bukan berdasarkan riset lama yang konteksnya berbeda.