MBMA Siap Buyback Rp 1,38 Triliun, Saham Terkoreksi 12,28% Sejak Awal Tahun

Penulis: Darmawan Iskandar  •  Kamis, 17 September 2026 | 08:19:01 WIB

SUMATERA SELATAN — PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menyiapkan dana maksimal Rp 1,38 triliun untuk membeli kembali saham perseroan. Aksi korporasi ini dilakukan di tengah tekanan pasar yang membuat harga saham MBMA terkoreksi 12,28% sejak awal tahun. Manajemen menargetkan pembelian maksimal 1,46 miliar saham dalam waktu paling lama tiga bulan.

Emiten terafiliasi konglomerat Garibaldi Thohir alias Boy Thohir itu menyampaikan rencana buyback melalui keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia. Dana maksimal Rp 1,38 triliun disiapkan untuk mengeksekusi seluruh target pembelian saham.

Manajemen MBMA menyatakan buyback akan dilakukan secara bertahap atau sekaligus melalui BEI. Perseroan dapat menyelesaikan lebih cepat apabila target 1,46 miliar saham dan dana yang disiapkan telah terpenuhi.

"Akan dilakukan secara bertahap dalam waktu paling lama 3 bulan setelah Keterbukaan Informasi ini disampaikan kepada OJK dan BEI dengan senantiasa berpedoman kepada Anggaran Dasar Perseroan," tulis manajemen MBMA dalam keterbukaan informasi BEI.

Alasan MBMA Gelar Buyback di Tengah Pasar Berfluktuasi

Manajemen menyebut aksi ini untuk menjaga stabilitas harga saham MBMA sekaligus meningkatkan kepercayaan investor. Perseroan berharap harga saham dapat mencerminkan nilai fundamental secara lebih wajar.

Kondisi pasar yang berfluktuasi menjadi pertimbangan utama. Perseroan juga memandang buyback tidak akan menurunkan pendapatan dan tidak berdampak pada biaya pembiayaan.

Jika target pembelian dan dana terpenuhi lebih cepat, perseroan dapat mengumumkan selesainya buyback sebelum 16 Desember 2026.

Rekomendasi Analis: Buy hingga Buy on Weakness

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta merekomendasikan beli saham MBMA dengan target harga 525, 540, dan 580 dalam jangka pendek.

Analis BinaArtha Sekuritas Ivan Rosanova merekomendasikan tahan penjualan atau beli saat melemah dengan target harga 545, 580, dan 620 di area beli 476–486.

Produksi Bijih SCM Melonjak, Margin Ikut Terkerek

Kinerja operasional MBMA sepanjang April–Juni 2026 ditopang peningkatan produksi bijih dari Tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM). Produksi bijih saprolit melonjak 130% YoY menjadi 2,9 juta wet metric tonnes (wmt), sedangkan bijih limonit naik 87% YoY menjadi 4,7 juta wmt.

Kenaikan harga jual bijih mengerek profitabilitas. Cash margin bijih saprolit melonjak menjadi US$ 26,7 per wmt dari US$ 1,0 per wmt pada periode yang sama tahun lalu. Cash margin bijih limonit meningkat 135% YoY menjadi US$ 10,4 per wmt, meski perseroan menghadapi kenaikan royalti dan biaya bahan bakar.

Produksi NPI Naik 16%, Margin Tetap Tumbuh

Di segmen pengolahan, MBMA memproduksi 19.505 ton nikel (tNi) dalam bentuk NPI, termasuk low-grade nickel matte (LGNM). Produksi tersebut naik 16% YoY dibandingkan 16.748 tNi pada kuartal II 2025.

Di tengah kenaikan biaya bijih, cash margin NPI tetap naik 11% YoY menjadi US$ 1.981 per tNi. Kenaikan ditopang harga jual rata-rata yang naik 28% YoY.

Presiden Direktur MBMA Teddy Nuryanto Oetomo mengatakan peningkatan produksi SCM, membaiknya harga bijih nikel, dan kemajuan proyek hilir mencerminkan kuatnya platform bisnis nikel terintegrasi perseroan.

"Dan ramp-up kapasitas HPAL secara bertahap untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang dalam rantai pasok material baterai global," ucap Teddy.

Proyek HPAL dan Target Produksi MHP

PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) masih fokus membangun proyek high pressure acid leach (HPAL) berkapasitas 90.000 ton per tahun. Hingga kuartal II 2026, konstruksi proyek memasuki tahap penyelesaian substansial.

Perseroan menargetkan produksi perdana mixed hydroxide precipitate (MHP) pada paruh kedua 2026. Seluruh lini produksi ditargetkan mencapai kapasitas penuh pada akhir tahun. Pengajuan Izin Usaha Industri (IUI) untuk proyek tersebut masih dalam proses.

Operasi PT Acid Iron Metal (AIM) juga mencatat kinerja positif. Pabrik asam memproduksi 258.060 ton asam sulfat dan membukukan penjualan 383.177 ton pada kuartal II 2026.

Produksi HGNM ditargetkan mencapai 44.000–48.000 ton. Sementara produksi MHP dari PT ESG diperkirakan berada pada kisaran 27.000–30.000 ton.

Reporter: Darmawan Iskandar
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top