Gubernur Sumsel Herman Deru Tinjau Satgas Karhutla OKU Selatan, Sebut 45 Hari Lagi Baru Turun Hujan

Penulis: Darmawan Iskandar  •  Senin, 21 September 2026 | 05:47:01 WIB
Gubernur Sumsel Herman Deru meninjau Posko Satgas Karhutla di Kantor BPBD OKU Selatan, Sabtu (19/9/2026).

OKU SELATAN — Gubernur Sumatera Selatan Dr. H. Herman Deru bersama Ketua DPRD Provinsi Sumsel Andie Dinialdie meninjau Posko Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan di Kantor BPBD Kabupaten OKU Selatan, Sabtu (19/9/2026). Peninjauan dilakukan untuk memastikan kesiapsiagaan satgas menghadapi potensi karhutla sekaligus memastikan kondisi wilayah tetap terkendali.

Herman Deru menyebut kunjungannya bagian dari upaya Pemprov Sumsel memantau langsung kondisi daerah, terutama saat cuaca masih berpotensi kering dalam beberapa waktu ke depan.

BMKG Perkirakan Hujan Baru Turun Awal November

Gubernur mengungkapkan, wilayah Sumsel saat ini berada dalam kondisi El Nino. Menurut perkiraan BMKG, hujan alami baru turun sekitar awal November.

"Kenapa Gubernur begitu konsen sampai harus ke OKU Selatan ini, karena kita ini El Nino. Menurut BMKG diperkirakan baru bisa mendapatkan hujan alami itu awal November. Berarti ada sekitar 45 hari lagi tidak hujan," kata Herman Deru.

Ia berharap perkiraan tersebut tidak terjadi dan hujan turun lebih cepat. Dengan begitu, kondisi Sumsel tetap aman dan potensi karhutla bisa ditekan.

"Namun, mudah-mudahan itu tidak benar, semoga lebih cepat datang hujannya," ujarnya.

OMC Sudah 58 Kali, Termasuk Tengah Malam

Pemprov Sumsel bersama Satgas Karhutla terus melakukan langkah antisipasi, salah satunya Operasi Modifikasi Cuaca. Hingga kini OMC telah dilakukan sebanyak 58 kali untuk memancing pertumbuhan awan hujan di wilayah yang membutuhkan.

Pelaksanaan OMC tidak hanya pada siang hari. Dalam kondisi tertentu, operasi juga dilakukan malam hingga tengah malam ketika ada informasi bibit awan berpotensi menghasilkan hujan.

"OMC sudah 58 kali kita lakukan. BNPB, saya sebagai gubernur menginstruksikan Satgas untuk melakukan OMC, baik itu tengah malam sudah kita lakukan. Begitu ada informasi bibit hujan, tengah malam pun kita lakukan," jelasnya.

Herman Deru menambahkan, pelaksanaan OMC memiliki risiko tersendiri bagi pilot dan kru pesawat yang bertugas. Meski begitu, langkah tersebut tetap dilakukan untuk mengendalikan dampak kekeringan dan mencegah karhutla meluas.

"Ini mempertaruhkan nyawa pilot dan kru untuk menebar garam sebagai pemancing awan berbibit hujan. Ini adalah bagian dari ikhtiar kita," katanya.

Debit Sungai Turun, PDAM Diminta Antisipasi

Selain mengantisipasi karhutla, Herman Deru mengingatkan pemerintah daerah memperhatikan dampak musim kering terhadap ketersediaan air. Sejumlah sungai di wilayah Sumsel mulai mengalami penurunan debit akibat kondisi cuaca.

Ia meminta pemerintah daerah, termasuk pengelola PDAM, menyiapkan langkah antisipasi agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi.

"Saya lihat sungai-sungai kita banyak sekali debitnya turun. Kalau PDAM, itu harus kita carikan solusi bagaimana intake-nya agar tetap produktif. Masyarakat yang hidupnya menggantungkan pada air sungai harus kita perhatikan," ujarnya.

OKU Selatan Tak Menyumbang Asap Signifikan

Herman Deru menyampaikan apresiasi kepada jajaran Pemkab OKU Selatan dan Satgas Karhutla setempat. Berdasarkan pemantauan, OKU Selatan tidak termasuk daerah yang memberikan kontribusi signifikan terhadap asap akibat karhutla.

"Kedatangan saya juga untuk mengingatkan dan mengapresiasi bahwa OKU Selatan ini tidak termasuk kabupaten yang menyumbang asap," ungkapnya.

Meski demikian, ia meminta seluruh jajaran satgas tetap meningkatkan kewaspadaan. Potensi titik api tidak hanya berasal dari aktivitas manusia, tetapi juga dipengaruhi faktor alam, terutama cuaca ekstrem dan kering.

Helikopter Siaga 24 Jam untuk Titik Api Tak Terjangkau

Herman Deru menginstruksikan kesiapsiagaan penanganan karhutla diperkuat, termasuk untuk wilayah yang sulit dijangkau personel di darat. Untuk titik api di kawasan pegunungan atau lokasi tak terjangkau manusia, dukungan udara harus segera dilakukan.

"Kalau ada yang tidak terjangkau manusia, misalnya di atas gunung tiba-tiba ada kejadian, helikopter bisa dikerahkan. Bapak bisa telepon, kasih titik koordinat," tegasnya.

Dansatgas Udara juga telah diinstruksikan siaga selama 24 jam. Kesiapsiagaan itu diharapkan mempercepat respons apabila ditemukan titik api di wilayah sulit dijangkau.

"Dalam hal ini kita tidak main-main. Tetapi ingat juga ada peran manusia, namun faktor alam sangat tinggi memengaruhi terkait hotspot dan fire spot," pungkas Herman Deru.

Reporter: Darmawan Iskandar
Sumber: halosumsel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top