SUMATERA SELATAN — Laporan Opensignal edisi Desember 2025 mencatat kecepatan unduh 5G Telkomsel mencapai rata-rata 76,7 Mbps, naik hampir 11 Mbps dari periode sebelumnya. Angka itu menempatkan Telkomsel di posisi teratas, mengungguli XL di 48,2 Mbps dan IM3 di 43,3 Mbps. Peningkatan ini sejalan dengan perluasan jaringan dan tambahan spektrum 100 MHz yang baru diperoleh operator tersebut.
Telkomsel tercatat memiliki lebih dari 6.380 BTS 5G yang tersebar di lebih dari 107 kota dan kabupaten di Indonesia per Mei 2026. Jumlah itu jauh melampaui cakupan awal ketika layanan 5G pertama kali dikomersialkan pada pertengahan Mei 2021.
Perluasan infrastruktur tersebut mengubah lanskap persaingan 5G di tanah air. Jika pada masa awal komersialisasi fokus pembangunan hanya di titik-titik tertentu, kini operator anak usaha Telkom itu membangun jaringan untuk menjangkau lebih banyak kawasan.
Di situs resminya, Telkomsel mencantumkan kemampuan 5G secara teori hingga 750 Mbps untuk layanan mobile. Namun, operator menyebut rata-rata pengalaman unduh yang dirasakan pengguna berada di kisaran 100-250 Mbps, bergantung pada kualitas sinyal, kemampuan perangkat 5G, dan kepadatan pelanggan di lokasi tersebut.
Selisih antara angka teori, klaim rata-rata pengalaman, dan hasil pengukuran Opensignal menunjukkan kecepatan internet seluler tidak bisa direpresentasikan hanya dengan satu angka. Dalam penggunaan sehari-hari, pelanggan berbagi kapasitas jaringan dengan pengguna lain di area yang sama.
Semakin padat trafik pada suatu lokasi, semakin besar kapasitas radio yang harus dibagi di antara pengguna. Telkomsel secara eksplisit memasukkan kepadatan pelanggan 5G sebagai salah satu faktor yang memengaruhi pengalaman unduh. Smartphone yang sama bisa mendapatkan hasil berbeda ketika digunakan di dua lokasi atau pada dua waktu berbeda.
Pada Agustus 2024, data Telkomsel mengungkapkan sekitar 11,5 juta pengguna perangkat 5G berada di jaringannya secara nasional. Sebanyak 22% dari pengguna tersebut terpusat di Bali. Telkomsel memprioritaskan penguatan 5G di wilayah seperti Denpasar dan Badung dengan mempertimbangkan konsentrasi pengguna.
Data itu memperlihatkan pembangunan 5G tidak hanya mengikuti luas wilayah, tetapi juga mengikuti konsentrasi pengguna dan kebutuhan trafik. Semakin banyak perangkat 5G aktif di suatu kawasan, operator harus menyediakan kapasitas lebih besar agar pengalaman pengguna tetap terjaga.
Di sinilah perbedaan antara kecepatan puncak dan pengalaman jaringan menjadi penting. Kecepatan puncak dapat dicapai dalam kondisi jaringan yang sangat ideal, sementara pengalaman pengguna menggambarkan kondisi yang lebih dekat dengan penggunaan sehari-hari.
Telkomsel mendapatkan tambahan spektrum frekuensi dari lelang yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) di pita 700 MHz dan 2,6 GHz. Total, Telkomsel memperoleh sokongan 100 MHz di kedua pita tersebut.
Spektrum tambahan itu menjadi modal penting untuk meningkatkan kapasitas jaringan 5G. Pita frekuensi rendah seperti 700 MHz dikenal memiliki jangkauan luas dan penetrasi gedung yang baik, sementara pita 2,6 GHz menawarkan kapasitas lebih besar untuk area padat trafik.
Kombinasi keduanya memungkinkan operator memperluas cakupan sekaligus menjaga kualitas layanan di wilayah dengan konsentrasi pengguna tinggi. Langkah ini sejalan dengan slogan Telkomsel "Dekatnya Nyata, Pintarnya Terasa" yang menekankan pengalaman nyata pengguna.
Pertumbuhan jumlah BTS membawa dua konsekuensi sekaligus. Di satu sisi, semakin banyak lokasi yang dapat menikmati 5G. Di sisi lain, operator harus memastikan kapasitas jaringan di lokasi tersebut mampu mengikuti pertumbuhan trafik.
Memperluas 5G bukan sekadar menambah jumlah BTS. Operator juga perlu menambah kapasitas, mengoptimalkan spektrum, dan menyesuaikan jaringan dengan pola penggunaan pelanggan. Tanpa itu, pengalaman pengguna bisa menurun meski cakupan bertambah luas.
Bagi pelaku bisnis digital dan investor startup, kualitas jaringan 5G yang konsisten menjadi pertimbangan utama dalam mengembangkan layanan berbasis data besar, streaming, hingga aplikasi real-time. Kecepatan yang stabil di berbagai wilayah membuka peluang adopsi teknologi yang lebih luas di pasar Indonesia.
Telkomsel masih memiliki ruang untuk meningkatkan performa 5G seiring penambahan spektrum dan pembangunan BTS yang berlanjut. Namun, tolok ukur keberhasilan tidak lagi hanya soal angka kecepatan puncak, melainkan seberapa konsisten jaringan tersebut melayani pengguna di berbagai kondisi.