Buku Cerpen AI Pertama di Sumsel "Perempuan di Tengah Labirin Mal" Terbit di Palembang, 21 Cerpen Disunting Manusia

Penulis: Fakhrudin Akbar  •  Selasa, 29 September 2026 | 05:46:01 WIB
Buku kumpulan cerpen AI berjudul "Perempuan di Tengah Labirin Mal" terbit di Palembang, September 2026.

PALEMBANG — Buku kumpulan cerpen berjudul "Perempuan di Tengah Labirin Mal" terbit di Palembang pada September 2026. Penerbitnya Pustaka Labrak bersama Kaki Bukit Literasi. Seluruh cerpen dalam buku ini bukan tulisan manusia, melainkan hasil kerja Artificial Intelligence atau AI.

Maspril Aries berperan sebagai penyunting. Ia menyebut buku ini sebagai eksperimen sastra digital yang jarang ditemui di Indonesia. "Kumpulan cerpen dalam buku ini bukan karya manusia melainkan karya mesin yang disebut Artificial Intelligence atau AI," kata Maspril, Senin 28 September 2026.

Apa yang Membedakan Buku Ini dari Kumpulan Cerpen Biasa?

Buku ini memuat 21 judul cerpen. Tebalnya xviii + 212 halaman. Menurut Maspril, isinya bukan sekadar rangkaian cerita pendek, tapi dokumentasi atas pertanyaan filosofis soal batas antara mesin dan manusia.

"Buku ini menawarkan sebuah eksperimen, apa yang terjadi ketika mesin diminta menulis sastra, sementara manusia hanya bertindak sebagai penyunting, kurator, atau menjadi 'penjaga cahaya' manusiawi di balik kode?" ujar Maspril.

Ia menyebut buku ini lahir dari dialog antara algoritma dan intuisi. Bukan sekadar teks yang dihasilkan mesin, tapi catatan atas pertanyaan: dapatkah mesin memahami dan mencipta keindahan, kerinduan, serta kompleksitas emosi manusia?

Respons Wartawan Senior Nasir Tamara

Wartawan senior Nasir Tamara memberikan endorse untuk buku ini. Nasir dikenal sebagai penulis buku "Revolusi Iran – Dari Tumbangnya Shah Iran Hingga Perang Melawan AS".

"Buku suntingan penulis berbakat Maspril Aries ini sangat menarik karena untuk pertama kalinya orang Indonesia mengedit cerita-pendek yang dibuat dari AI," ujar Nasir.

"Saya belum melihat orang Indonesia lain melakukannya. Karena sesungguhnya kebanyakan orang kita masih awam tentang potensi yang dimiliki AI," katanya menambahkan.

Mengapa Terbit di Tengah Perdebatan Global soal AI?

Buku ini hadir saat perdebatan global soal kecerdasan buatan sedang ramai. AI kerap dikaitkan dengan otomasi pekerjaan dan ancaman terhadap kreativitas manusia.

Di Sumsel, kehadiran buku ini mengisi ruang literasi yang selama ini didominasi karya penulis manusia. Penerbit menempatkan AI bukan sebagai pengganti penulis, melainkan sebagai alat yang tetap butuh kurasi manusia.

Peran Maspril sebagai penyunting menjadi kunci. Ia bertindak sebagai kurator yang memilih dan merapikan 21 cerpen hasil mesin sebelum dibukukan. Posisi itu sejalan dengan istilah yang ia pakai sendiri: penjaga cahaya manusiawi di balik kode.

Bagaimana Posisi Buku Ini di Peta Sastra Digital Indonesia?

Klaim "pertama di Sumsel" dan "pertama dilakukan orang Indonesia" menempatkan buku ini pada posisi khusus. Nasir Tamara yang menyatakan belum melihat penulis Indonesia lain mengedit cerpen AI memperkuat klaim tersebut.

Buku ini bisa dibaca sebagai penanda awal masuknya AI ke ranah sastra lokal. Bukan hanya soal teknologi, tapi soal bagaimana manusia menempatkan diri ketika mesin mulai menulis.

Penerbit belum menyebut rencana lanjutan, apakah akan ada buku serupa atau diskusi publik soal proses kreatif di baliknya. Yang jelas, "Perempuan di Tengah Labirin Mal" sudah tercatat sebagai terbitan September 2026 dari Palembang.

Reporter: Fakhrudin Akbar
Sumber: palpres.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top