PALEMBANG — Kabut asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan kembali menyelimuti Kota Palembang. Pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan konsentrasi PM2.5 di dua titik pemantauan melonjak ekstrem sejak tengah malam hingga pagi.
Lonjakan terjadi sangat cepat. Di Stasiun Musi 2, angka PM2.5 melesat dari 307,7 µg/m³ pukul 01.00 WIB menjadi 730 µg/m³ satu jam kemudian, lalu menembus puncak 802,3 µg/m³ pada pukul 03.00 WIB.
Stasiun Talang Betutu mencatat pola serupa dengan angka lebih tinggi. Dari kisaran 353,8 µg/m³ pukul 02.00 WIB, konsentrasi polutan meroket hingga 881 µg/m³ tepat pukul 07.00 WIB.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengonfirmasi bahwa kondisi udara berada di level bahaya sejak dini hari. Puncak emisi di masing-masing stasiun terjadi pada jam yang berbeda.
"Memang kondisinya berada di level bahaya sejak tengah malam sampai pagi. Puncak emisi PM2.5 di Talang Betutu terdeteksi jam tujuh pagi tadi sebesar 881 µg/m³, sedangkan untuk wilayah Musi 2 angka tertingginya menyentuh 802,3 µg/m³ pada pukul tiga dini hari," kata Wandayantolis.
Setelah puncak dini hari, konsentrasi di area Musi 2 berangsur turun. Pada pukul 07.00 WIB, angka tercatat 402,1 µg/m³ — masih di tingkat mengkhawatirkan meski jauh di bawah puncak.
Tingginya angka PM2.5 menandakan melimpahnya partikel mikro berukuran sangat kecil di udara. Ukurannya memungkinkan partikel terhirup masuk hingga saluran pernapasan paling dalam.
Paparan jangka pendek berisiko memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, lansia, serta warga dengan riwayat penyakit jantung dan pernapasan.
Hingga keterangan BMKG dikutip, lanskap Kota Palembang masih diselimuti kabut asap pekat.
BMKG meminta warga di area berisiko tinggi mengurangi kegiatan di ruang terbuka. Jika harus keluar rumah, masker dengan proteksi memadai menjadi syarat wajib.
"Kami mengimbau warga di area berisiko tinggi untuk menahan diri dari kegiatan berat di ruang terbuka. Jika terpaksa harus keluar rumah, pastikan selalu menggunakan masker dengan proteksi yang memadai," tegas Wandayantolis.
Pemantauan kualitas udara di Palembang akan terus diperbarui BMKG seiring perkembangan karhutla di wilayah Sumatera Selatan.