Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir menyiapkan insentif Rp10 juta dari Gubernur Sumatera Selatan dan tambahan Rp5 juta dari Bupati OKI bagi warga yang melaporkan kebakaran hutan dan lahan. Program ini menyasar 107 desa rawan karhutla, dengan 61 desa prioritas di enam kecamatan. Pelibatan warga hingga tingkat desa menjadi kunci pencegahan api meluas sejak dini.
KAYUAGUNG — Bupati OKI Muchendi Mahzareki menyatakan insentif senilai Rp10 juta disiapkan bagi warga yang melaporkan kejadian karhutla. Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyediakan bonus tersebut, sementara Pemkab OKI menambah Rp5 juta khusus bagi pelapor di wilayah Kabupaten OKI.
Penghargaan itu bagian dari strategi pencegahan yang melibatkan masyarakat hingga tingkat desa. Warga didorong aktif memantau wilayah rawan, mencegah pembukaan lahan dengan cara membakar, dan menjalankan patroli lingkungan secara mandiri.
Pemkab OKI memetakan 107 desa rawan karhutla. Dari jumlah itu, 61 desa ditetapkan sebagai prioritas yang tersebar di Kecamatan Tulung Selapan, Cengal, Sungai Menang, Pangkalan Lampam, Pampangan, dan Air Sugihan.
"Pelibatan ini difokuskan pada pemetaan 107 desa rawan karhutla, dengan 61 desa prioritas yang tersebar di enam kecamatan, yakni Tulung Selapan, Cengal, Sungai Menang, Pangkalan Lampam, Pampangan, dan Air Sugihan," kata Muchendi.
Pemerintah mengerahkan perangkat desa, Karang Taruna, Linmas, Masyarakat Peduli Api, hingga relawan dalam pengawasan wilayah. Unsur TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, dan dunia usaha turut memastikan kesiapan personel serta peralatan pemadam berfungsi optimal.
Muchendi menegaskan penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah dan petugas pemadam kebakaran. Kesadaran serta partisipasi aktif warga dibutuhkan untuk menekan risiko sejak dini.
"Pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat harus menjadi bagian dari pengawasan dan perusahaan memastikan personel serta peralatannya siap. Kalau bergerak sejak awal, kita bisa mencegah api meluas," ujarnya.
Gubernur Herman Deru menilai masyarakat berada di posisi paling strategis karena tinggal paling dekat dengan lingkungan rawan. Peran mereka, menurut dia, menentukan keberhasilan pencegahan di lapangan.
"Masyarakat adalah mata dan telinga kita di lapangan. Karena itu, kepedulian dan keberanian masyarakat untuk ikut menjaga wilayahnya sangat penting dalam mencegah karhutla," tegas Herman Deru.
Skema bonus berjenjang ini diharapkan mempercepat pelaporan titik api sebelum membesar. Warga yang menemukan indikasi pembakaran lahan dapat melapor ke perangkat desa atau posko karhutla terdekat untuk diverifikasi petugas.
Kabupaten OKI termasuk wilayah langganan karhutla di Sumatera Selatan karena banyak lahan gambut dan perkebunan. Pencegahan berbasis komunitas dinilai lebih efektif ketimbang pemadaman setelah api meluas.