Dinas Pertanian Sumsel Optimalkan 2,9 Juta Hektare Lahan Rawa untuk Perkuat Ketahanan Pangan

Penulis: Syaiful Bahri  •  Kamis, 08 Oktober 2026 | 10:02:32 WIB
Lahan rawa di Sumatera Selatan dimanfaatkan untuk perluasan areal persawahan guna mendukung ketahanan pangan.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Selatan mengoptimalkan pemanfaatan lahan rawa seluas 2,9 juta hektare di 17 kabupaten dan kota untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Kepala Dinas Pertanian Sumsel Bambang Pramono menyatakan pihaknya terus mendorong konversi lahan rawa lebak dan pasang surut menjadi persawahan produktif. Produksi padi Sumsel hingga Agustus 2026 tercatat 2,8 juta ton gabah kering giling atau naik sekitar 108 ribu ton dibanding periode sama tahun sebelumnya.

PALEMBANG — Lahan baku sawah di Sumatera Selatan mencapai 519 ribu hektare dan sebagian besar ditopang ekosistem rawa. Dari total 2,9 juta hektare lahan rawa yang tersedia, masih banyak yang belum digarap optimal sebagai area pertanian.

Program Optimalisasi Lahan (Oplah) yang berjalan beberapa tahun terakhir dilanjutkan dengan mengonversi lahan rawa lebak dan pasang surut. Bambang menilai potensi tersebut perlu dikelola produktif agar manfaatnya lebih besar bagi masyarakat.

Lahan Rawa Lebak dan Pasang Surut Jadi Andalan

"Kami terus mengoptimalkan pemanfaatan lahan rawa yang ada di 17 kabupaten dan kota di provinsi ini menjadi lahan pertanian terutama sawah," kata Bambang di Palembang, Rabu.

Pemanfaatan rawa menjadi sawah diarahkan untuk menaikkan produktivitas padi, mendukung ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga. Sebagian lahan rawa yang belum tergarap dinilai menyimpan potensi besar bila dikelola dengan pendekatan yang tepat.

Dukungan Pemerintah Pusat Dinilai Krusial

Wakil Gubernur Sumsel Cik Ujang menyebut provinsi dengan 17 kabupaten dan kota ini memiliki banyak lahan rawa lebak dan pasang surut. Ketika musim kemarau, lahan tersebut mengalami kekeringan dan kerap terbakar.

Cik Ujang berharap dukungan pemerintah pusat agar lahan rawa bisa diolah menjadi persawahan. Dengan begitu, lahan lebih produktif dan kesejahteraan masyarakat meningkat.

Optimalisasi rawa menjadi kawasan pertanian juga dinilai dapat menekan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Lahan yang tergarap rutin lebih kecil kemungkinannya mengering dan terbakar saat kemarau panjang.

Produksi Padi Naik Meski Dilanda El Nino

Produksi padi Sumsel tetap meningkat meski kondisi kemarau dipengaruhi fenomena El Nino. Hingga Agustus 2026, produksi mencapai 2,8 juta ton gabah kering giling (GKG).

Angka itu naik sekitar 108 ribu ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan produksi ini menjadi modal penting bagi Sumsel dalam menjaga pasokan pangan regional.

Dinas Pertanian Sumsel akan melanjutkan program Oplah dengan menyasar titik-titik rawa yang belum tergarap. Fokusnya adalah memperluas area tanam padi sekaligus menjaga lahan baku sawah yang sudah ada.

Reporter: Syaiful Bahri
Sumber: sumsel.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top