SUMATERA SELATAN — YouTuber TrashBench memasang radiator AIO 360mm dan waterblock custom ke laptop Metabox P950EP berisi Core i7-8750H dan GTX 1060, menurunkan suhu CPU dan GPU hingga 60 derajat Celsius di bawah kondisi standar. Setelah overclocking, performa rata-rata naik 14 persen, dengan Forza Horizon 5 melompat dari 75 FPS ke 83 FPS. Hasilnya memang ekstrem, tapi definisi "laptop" di sini jelas perlu tanda kutip.
Proyek yang diunggah ke YouTube tersebut berangkat dari masalah klasik laptop gaming: sistem pendingin bawaan tidak sanggup menahan panas saat dipakai main game berat. TrashBench memilih Metabox P950EP, laptop asal Australia hasil rebranding barebone Clevo dari Taiwan, sebagai bahan eksperimen. Rencananya, laptop ini akan dipakai anaknya untuk bermain Fortnite.
TrashBench memulai dengan memanfaatkan radiator AIO 360mm bekas proyek lain yang sudah dipotong. Ia memasang waterblock terpisah untuk CPU, lalu menyadari pompa bawaan AIO tidak cukup kuat mendorong cairan melewati dua blok sekaligus. Ia pun beralih ke pompa standalone berukuran lebih besar.
Waterblock ditempel lewat dudukan hasil cetak 3D, kemudian disekrup ke lubang bekas heatpipe dan blower cooler bawaan. Untuk radiator, ia membuat dudukan cetak 3D tambahan yang dipasang di belakang layar. Karena celah antara panel dan cangkang terlalu sempit, dudukan itu akhirnya direkatkan memakai epoksi dua komponen merek Loctite.
Epoksi yang sama dipakai untuk menempelkan heatsink pada RAM dan VRM. Thermal pad dipasang agar permukaan RAM sejajar dengan VRM, sehingga satu heatsink bisa menutupi tiap kluster. Sebagian thermal paste dan sedikit epoksi memastikan heatsink tidak lepas, meski konsekuensinya modifikasi ini permanen dan sulit dibongkar.
Laptop beroperasi di 19 volt, sementara pompa dan kipas membutuhkan 12 volt. TrashBench menyolder konverter DC-DC step-down ke kontak listrik kipas blower bawaan. Masalahnya, sumber daya itu langsung menyala begitu laptop dinyalakan, tanpa cara mengatur agar pompa dan kipas hanya aktif saat beban tinggi. Solusinya, sebuah sakelar toggle dipasang pada pelat cetak 3D yang disekrup ke cangkang bawah, di area yang sudah dilubangi besar untuk menampung pompa dan waterblock.
Setelah seluruh rangkaian tersambung memakai selang bening fleksibel dan klem sekrup, ia menguji kebocoran. "I think we're good," ujarnya, sesaat sebelum beberapa gelembung melintas di selang. Sebuah riser cetak 3D juga disekrup ke bagian bawah agar laptop bisa berdiri.
Dari sisi performa, hasilnya cukup meyakinkan. Suhu CPU dan GPU rata-rata 60 derajat Celsius lebih rendah dibanding kondisi standar, dan keduanya bertahan jauh di bawah 40 derajat Celsius saat beban penuh. Dengan ruang suhu yang masih lega, TrashBench melanjutkan ke overclocking.
Forza Horizon 5 naik dari 75 FPS ke 77 FPS, lalu ke 83 FPS setelah overclocking. Kenaikan rata-rata performa keseluruhan tercatat 14 persen. Angka ini terbilang konservatif, tetapi jelas terukur.
Modifikasi ini bukan proyek yang bisa ditiru sembarangan. Ada pengeboran cangkang, penyolderan jalur listrik, dan perekatan permanen memakai epoksi yang membuat garansi serta nilai jual laptop hilang. Bagi pengguna di Indonesia, jalur yang lebih masuk akal untuk menekan suhu tetap seputar repasta, cooling pad berkualitas, atau undervolting lewat software bawaan produsen.
Yang menarik, eksperimen ini menunjukkan seberapa besar kepala ruang pendingin sebenarnya dibutuhkan chip Core i7-8750H dan GTX 1060 agar bisa bekerja optimal. Selama ini keterbatasan laptop lebih banyak ditentukan ruang fisik dan desain termal ketimbang kemampuan silikonnya.