SUMATERA SELATAN — Pengeras suara masjid di Indonesia akan diuji sebagai bagian sistem peringatan dini gempa bumi lewat proyek percontohan yang berjalan hingga 2030. Riset kolaborasi peneliti Jepang dan BRIN ini menyasar daerah terpencil yang sulit dijangkau jaringan peringatan konvensional. Sejumlah masjid bahkan sudah terhubung dengan jaringan sensor seismik.
Uji coba ini dipimpin ilmuwan kebencanaan dari Disaster Prevention Research Institute, Kyoto University, Dr. Inoue Hiroshi, bersama tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang diketuai Andi Eka Sakya. Proyek dirancang berlangsung lima tahun, hingga 2030, untuk menilai apakah pengeras suara yang rutin digunakan mengumandangkan azan bisa difungsikan sebagai alarm gempa.
Gagasan ini muncul hampir dua dekade lalu, ketika Inoue meneliti gempa bumi mematikan di Sumatra pada 2009 yang menewaskan sedikitnya 1.000 orang. Ia menilai sistem peringatan yang bisa memberi tahu warga sebelum guncangan datang berpotensi menyelamatkan banyak nyawa.
"Saya berpikir, jika Indonesia memiliki layanan yang sama dan masyarakat menerima peringatan sebelum guncangan datang, banyak orang dari ratusan korban tersebut mungkin tidak akan meninggal," tutur Inoue, dikutip dari The Guardian, Senin (12/10/2026).
Menurut Inoue, masjid berpotensi menjadi sarana penyebaran peringatan bencana karena keberadaannya tersebar di berbagai komunitas. "Setiap komunitas memiliki masjid," ujarnya.
Indonesia memiliki infrastruktur pengeras suara masjid yang sudah tersedia dan rutin digunakan. Dengan jumlah masjid mencapai ratusan ribu, toa yang selama ini dipakai untuk azan lima kali sehari berpotensi menjadi jaringan alarm bencana yang menjangkau wilayah terpencil.
Keunggulan lain, perangkatnya sudah tersedia dan terawat dengan baik. "Keunggulan pengeras suara masjid adalah perangkatnya sudah tersedia dan terawat dengan baik," kata Inoue. Ia menambahkan, pemeliharaan menjadi salah satu tantangan terbesar infrastruktur kebencanaan, sementara perawatan toa masjid dilakukan masyarakat setempat.
Sistem ini juga menjadi alternatif peringatan berbasis telepon seluler. Gempa berpotensi mengganggu infrastruktur komunikasi sehingga penyampaian peringatan lewat ponsel tidak selalu bisa diandalkan.
Indonesia sebenarnya sudah memiliki sistem peringatan dini tsunami sejak 2008. Namun peringatan gempa menghadapi tantangan tersendiri karena gelombang seismik merambat melalui tanah dengan sangat cepat.
Andi menjelaskan, desa yang berjarak sekitar 50 kilometer dari pusat gempa bisa hanya punya waktu lima hingga 10 detik untuk merespons sebelum guncangan tiba. Ia menilai inisiatif ini berpotensi menjadi terobosan dalam sistem peringatan dini gempa.
"Ini masih berupa prototipe dan belum digunakan untuk mengirimkan peringatan kepada masyarakat," ucap Andi. Tujuan akhirnya adalah memastikan masyarakat mendapat peringatan sedini mungkin agar bisa segera mengambil tindakan penyelamatan.
Selain memanfaatkan pengeras suara masjid, tim peneliti mengkaji kemungkinan penggunaan pengeras suara di sekolah serta siaran radio dan televisi untuk menyebarkan peringatan bencana.
Pendekatan serupa bukan hanya dikaji di Indonesia. Uni Emirat Arab sebelumnya mempertimbangkan pengeras suara masjid sebagai bagian jaringan alarm yang lebih luas untuk memperingatkan masyarakat jika terjadi kebocoran radiasi di pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah.
Uzbekistan menjalankan proyek percontohan dengan rencana pemasangan perangkat alarm di 272 masjid. Sistem tersebut dirancang memperingatkan masyarakat soal banjir, aliran lumpur, tanah longsor, dan longsoran salju, dengan melibatkan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP).
Hingga 2030, uji coba di Indonesia akan menilai sejauh mana jaringan pengeras suara masjid dapat mendukung sistem peringatan dini gempa dan membantu masyarakat di wilayah terpencil memperoleh informasi lebih cepat sebelum guncangan terjadi.