SUMATERA SELATAN — Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengecam keras penyerangan rombongan Persib Bandung U-18 oleh oknum suporter berinisial BPA di Rest Area Batang KM 360, Minggu (11/10) malam. Erick menegaskan aksi perampasan, perusakan bus, hingga pemukulan terhadap ofisial muda adalah tindak kriminal yang mencoreng sepak bola Indonesia, bukan cerminan suporter sejati.
Insiden tersebut terjadi saat rombongan Persib U-18 dalam perjalanan pulang setelah menjalani laga. Di Rest Area Batang KM 360, sejumlah oknum yang diduga suporter Persija melakukan penyerangan terhadap bus tim, merampas barang, memecahkan kaca, dan memukuli ofisial muda.
Erick Thohir menyebut kejadian itu sebagai pukulan telak bagi citra sepak bola nasional. Menurutnya, tindakan anarkistis semacam itu tidak bisa ditoleransi dengan alasan apa pun, termasuk dalih rivalitas antarklub.
Ketua Umum PSSI itu meminta Liga dan klub untuk memastikan pelaku mendapat sanksi maksimal. Ia menekankan bahwa aksi merampas, memecahkan bus, hingga memukuli ofisial muda adalah kriminal, bukan cerminan suporter Indonesia.
"Tanggung jawab, saya lihat membakar!" ujar Erick Thohir dalam pernyataannya, menggambarkan kemarahannya atas insiden tersebut.
Erick juga menyoroti pentingnya penegakan hukum yang tegas agar kejadian serupa tidak terulang. Ia mendorong adanya koordinasi antara pihak kepolisian, Liga, dan klub untuk mengusut tuntas pelaku berinisial BPA dan kemungkinan pelaku lain yang terlibat.
Penyerangan di Rest Area Batang KM 360 menjadi sorotan karena melibatkan tim usia muda. Ofisial dan pemain Persib U-18 yang masih belia menjadi korban kekerasan, memicu reaksi keras dari berbagai pihak.
Erick menilai kejadian ini tidak hanya merugikan korban secara fisik dan materiil, tetapi juga merusak wajah sepak bola Indonesia yang tengah berbenah. Ia berharap seluruh pemangku kepentingan sepak bola tanah air mengambil pelajaran dari insiden ini.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian mengenai penangkapan pelaku. PSSI terus mendesak agar proses hukum berjalan cepat dan transparan.
Dalam beberapa kesempatan, Erick Thohir memang getol menyuarakan pemberantasan kekerasan di stadion maupun di luar pertandingan. Insiden di Batang menjadi ujian bagi komitmen tersebut.
PSSI diharapkan tidak hanya sebatas mengecam, tetapi juga mengambil langkah konkret bersama Liga dan klub untuk mencegah terulangnya aksi serupa. Salah satu yang disorot adalah pengawasan rombongan suporter saat melakukan perjalanan jauh.
Erick menegaskan bahwa sepak bola Indonesia harus bebas dari tindakan kriminal yang mengatasnamakan suporter. Ia mengajak semua pihak untuk menjaga sportivitas dan keamanan, terutama bagi pemain muda yang sedang meniti karier.