SUMATERA SELATAN — Rupiah di pasar non-deliverable forward (NDF) sempat anjlok ke Rp18.139 per dolar AS pada perdagangan Kamis malam, level terlemah sejak akhir Juli. Pagi ini, rupiah offshore berhasil menguat terbatas 0,07% ke Rp18.105/US$. Tekanan eksternal dari lonjakan harga minyak dan ketidakpastian kebijakan The Fed masih membebani mata uang Garuda.
Pelemahan rupiah offshore terjadi saat harga minyak Brent menyentuh US$112,96 per barel, setelah sehari sebelumnya ditutup di level US$113 per barel. Kenaikan harga minyak dipicu meningkatnya serangan ke Arab Saudi, yang menambah risiko geopolitik di kawasan penghasil energi utama dunia.
Tekanan pada rupiah tidak sepenuhnya sejalan dengan pergerakan mata uang Asia lain. Sebagian besar mata uang kawasan justru menguat terhadap dolar AS, seiring memudarnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Yen Jepang dan won Korea Selatan memimpin penguatan, sementara dolar Singapura, ringgit Malaysia, dan yuan offshore bergerak lebih terbatas.
Pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve tidak akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan Oktober. Fedwatch mencatat probabilitas The Fed menahan suku bunga di level saat ini mencapai 92,8%.
Meski begitu, The Fed diperkirakan tetap memberikan nada hawkish atau hawkish hold pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) 27-28 Oktober. Sikap itu didukung data ekonomi AS, termasuk inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) yang di