SUMATERA SELATAN — Seorang turis perempuan Belanda berinisial ET (28) mengalami cedera kaki saat mendaki Gunung Rinjani lewat jalur Sembalun, Lombok Timur, NTB. Insiden terjadi di sekitar Batu Beleq pada Kamis (22/10) pagi, dan korban akhirnya dievakuasi menggunakan helikopter sekitar pukul 12.25 Wita. Evakuasi via udara ditempuh karena korban tidak mampu berdiri dan butuh penanganan medis segera.
Kepala Subbagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardiaristo, menyebut kondisi korban membuat proses evakuasi biasa tidak memungkinkan. "Korban mengalami cedera pada kaki hingga tidak mampu berdiri dan membutuhkan penanganan medis segera," terangnya.
Setelah menerima laporan, TNGR berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menempuh evakuasi via udara. Helikopter diterbangkan ke titik korban sekitar pukul 12.25 Wita, atau sekitar lima jam setelah laporan masuk.
Menurut Astekita, evakuasi udara tersebut ditempuh sesuai dengan asuransi premium yang dimiliki korban. "Sekitar pukul 12.25 Wita, korban dievakuasi menggunakan helikopter. Sesuai dengan asuransi premium yang dimiliki korban," jelasnya.
Korban diterbangkan menuju heliport di Benoa, Bali, sebelum dirujuk ke rumah sakit untuk perawatan medis lebih lanjut. Belum ada keterangan resmi soal kondisi terkini korban setelah mendapat penanganan.
Jalur Sembalun dikenal sebagai rute pendakian yang menantang dengan tanjakan panjang dan medan terbuka. Batu Beleq menjadi salah satu titik yang kerap dilalui pendaki sebelum mencapai area camp dan puncak.
Insiden ini menambah daftar kasus cedera pendaki di Rinjani. Medan berbatu, suhu dingin, dan kelelahan menjadi faktor yang sering disebut dalam berbagai laporan evakuasi.
Astekita menegaskan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap pendakian. Persiapan fisik dan perlengkapan yang sesuai harus dipastikan sebelum berangkat.
"Keberhasilan sebuah pendakian bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi juga tentang kembali dengan selamat," ujarnya.
Bagi traveler yang berencana mendaki Rinjani, pastikan kondisi fisik prima, membawa perlengkapan sesuai standar, dan memahami prosedur darurat di jalur yang dipilih. Informasi terkini soal kondisi jalur dan ketentuan pendakian dapat dikonfirmasi ke Balai TNGR atau dinas pariwisata setempat.