SUMATERA SELATAN — Sekitar 60.000 karyawan Microsoft di seluruh dunia mendapat opsi pengunduran diri sukarela dari perusahaan. Langkah itu diambil saat raksasa teknologi asal Amerika Serikat tersebut memperbesar belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) hingga US$ 175 miliar per tahun.
Program buyout tersebut mencakup kurang lebih seperempat dari total tenaga kerja Microsoft secara global. Penawaran berlaku bagi staf dengan jabatan wakil presiden ke bawah di Kanada, India, Inggris, dan Amerika Serikat. Perusahaan mengumumkan program itu pada Senin (26/10).
Chief People Officer Microsoft Amy Coleman menyatakan opsi ini menyasar karyawan yang mungkin sedang mempertimbangkan karier di luar perusahaan. "Penawaran ini memberikan opsi baru bagi karyawan yang memenuhi syarat, yang mungkin sedang mempertimbangkan masa depan di luar perusahaan, untuk melakukan transisi tersebut sekarang, dengan dukungan yang tersedia," ujar Coleman dalam memo kepada karyawan, dikutip CBS News.
Chief Financial Officer Microsoft Amy Hood membeberkan rencana belanja US$ 175 miliar untuk infrastruktur AI per tahun ini, termasuk pusat data. Angka itu disampaikan dalam sesi pembahasan kinerja keuangan bersama analis Wall Street pada Juli.
Skala investasi tersebut menjelaskan arah restrukturisasi: Microsoft memindahkan bobot biaya dari tenaga kerja ke kapasitas komputasi. Program buyout dirancang memberi karyawan dukungan finansial dan sumber daya perencanaan karier, sekaligus memangkas beban biaya tenaga kerja perseroan.
Ini merupakan program pengunduran diri sukarela kedua yang ditawarkan Microsoft sepanjang tahun ini. Associated Press mengutip dua sumber anonim yang menyebut perusahaan sebelumnya merencanakan program serupa pada Mei untuk sekitar 8.750 orang, atau 7% dari tenaga kerjanya di Amerika Serikat.
Pada Juli, Microsoft juga mengumumkan penghapusan 4.800 posisi, sekitar 2% dari total tenaga kerja global, termasuk banyak peran di divisi permainan video Xbox. Berdasarkan dokumen resmi perusahaan, jumlah karyawan global Microsoft mencapai 223 ribu orang pada akhir Juni, turun dari 228 ribu pada akhir tahun sebelumnya.
Agence France-Presse melaporkan sekitar 27% dari tenaga kerja Microsoft memenuhi syarat mengikuti penawaran buyout terbaru. Karyawan yang memenuhi syarat akan menerima informasi resmi lewat surel pada Senin (26/10).
Sejumlah unit bisnis dikecualikan dari program pengakhiran hubungan kerja sukarela. Bloomberg mengutip juru bicara perusahaan yang menyebut karyawan pengelola pusat data serta staf di bidang penjualan dan pemasaran tidak memenuhi syarat.
Pengecualian itu masuk akal di tengah ekspansi kapasitas AI. Pekerja pusat data menjadi ujung tombak operasional infrastruktur yang justru sedang dibesarkan, sementara fungsi penjualan dan pemasaran dipertahankan untuk menjaga aliran pendapatan.
Langkah Microsoft menambah daftar efisiensi sektor teknologi global yang bergeser ke belanja modal AI. Bagi investor, sinyalnya adalah prioritas kapital yang makin tajam ke infrastruktur komputasi, bukan penambahan kepala.
Bagi karyawan di sektor serupa, program buyout menjadi acuan negosiasi paket keluar. Perusahaan memilih jalur sukarela ketimbang pemutusan hubungan kerja massal, meski efek bersihnya tetap pengurangan jumlah tenaga kerja.