Laba PGE Melonjak 21,45 Persen di Kuartal III 2026, Produksi Listrik Cetak Rekor

Penulis: Khairul Anwar  •  Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:20:01 WIB
Fasilitas pembangkit panas bumi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) di Sumatera Selatan.

SUMATERA SELATAN — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) membukukan laba bersih US$126,62 juta sepanjang Januari–September 2026, tumbuh 21,45 persen dibanding periode sama tahun lalu. Lonjakan laba emiten berkode PGEO itu ditopang produksi listrik panas bumi yang mencapai rekor tertinggi 4.114 GWh.

Pertumbuhan laba PGE melampaui kenaikan pendapatannya. Pendapatan perseroan naik 10,46 persen menjadi US$352,20 juta dari US$318,86 juta pada sembilan bulan pertama 2025. Artinya, margin laba bersih PGE melebar dari 32,70 persen menjadi 35,95 persen.

Direktur Keuangan PGE Fransetya Hasudungan Hutabarat menyebut capaian itu mencerminkan profitabilitas perseroan yang semakin kuat. Peningkatan produksi, optimalisasi pendapatan, dan disiplin pengelolaan biaya menjadi penopangnya.

"Pertumbuhan laba bersih yang melampaui pertumbuhan pendapatan ini mencerminkan semakin kuatnya profitabilitas PGE. Fundamental keuangan yang solid menjadi modal penting bagi Perseroan untuk menjaga kesinambungan bisnis sekaligus mendukung pengembangan kapasitas panas bumi ke depan," ujar Fransetya dalam keterangannya (28/10).

Laba Usaha Tumbuh 17,44 Persen

Dari sisi operasional, laba usaha PGE naik 17,44 persen menjadi US$186,26 juta, dari US$158,60 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini sejalan dengan efisiensi yang diklaim perseroan dalam pengelolaan pembangkit dan biaya produksi.

Neraca PGE juga membaik. Total liabilitas turun menjadi US$955,55 juta dari US$988,89 juta pada akhir 2025. Kas dan setara kas tercatat US$713,68 juta, memberi ruang bagi perseroan membiayai operasional sekaligus merealisasikan rencana ekspansi.

Produksi Listrik Tembus 108 Persen dari Target

Produksi listrik panas bumi dari wilayah kerja yang dioperasikan sendiri mencapai 4.114 GWh pada Januari–September 2026. Angka itu naik 9,79 persen dibanding periode sama tahun lalu, sekaligus melampaui target 3.801 GWh atau setara 108,22 persen.

Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho menjelaskan, rekor produksi lahir dari disiplin operasional dalam menjaga pasokan uap, keandalan pembangkit, dan efektivitas pemeliharaan.

"Kami terus mengoptimalkan kinerja setiap aset panas bumi melalui pengelolaan reservoir yang disiplin dan pemeliharaan pembangkit yang terencana. Inilah komitmen operational excellence PGE untuk menghadirkan pasokan listrik yang andal dan berkelanjutan," ujar Andi.

Keandalan pembangkit tercermin dari Equivalent Availability Factor (EAF) 98,51 persen, jauh di atas target 92,20 persen. Sementara Equivalent Forced Outage Rate (EFOR) hanya 0,21 persen, menandakan rendahnya gangguan paksa selama periode laporan.

Seratus Tahun Panas Bumi Indonesia

Tahun 2026 menandai satu abad perjalanan panas bumi Indonesia, yang dimulai dari eksplorasi di Kamojang, Jawa Barat, pada 1926. Bagi PGE, momentum itu menjadi pijakan untuk memperluas pemanfaatan energi bersih nasional.

Direktur Utama PGE Ahmad Yani menyebut warisan seratus tahun itu sekaligus menjadi tanggung jawab perseroan. Komitmennya bukan hanya menjaga keandalan operasional dan pertumbuhan bisnis, tetapi juga memastikan panas bumi memberi manfaat bagi masyarakat dan ketahanan energi.

"Seratus tahun perjalanan panas bumi Indonesia merupakan warisan sekaligus tanggung jawab bagi kami untuk terus mengembangkan potensi energi bersih nasional," ujar Ahmad Yani.

Untuk mewujudkan komitmen tersebut, PGE mempercepat sejumlah proyek strategis, antara lain Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong. Proyek-proyek ini menjadi penopang pertumbuhan kapasitas perseroan ke depan.

Dengan laba yang tumbuh dua digit dan neraca yang semakin ringan, PGE berada di posisi kuat untuk menambah kapasitas terpasang tanpa mengorbankan profitabilitas. Bagi investor, kombinasi rekor produksi dan margin yang melebar menjadi sinyal bahwa ekspansi panas bumi bisa berjalan seiring disiplin biaya.

Reporter: Khairul Anwar
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top