MURATARA — Akses transportasi vital warga di dua desa di Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), lumpuh total. Jembatan gantung yang menjadi satu-satunya penghubung antara Desa Noman dan Desa Noman Baru putus diterjang banjir bandang pada 7 Mei 2026 lalu. Kini, warga hanya bisa menyeberangi sungai dengan berjalan memutar atau menggunakan perahu darurat.
Pemerintah Desa (Pemdes) Noman dan Noman Baru langsung bergerak. Mereka menggelar musyawarah bersama tokoh masyarakat, alim ulama, tokoh pemuda, serta perangkat desa di kantor kepala desa Noman Baru, Jumat (5/6/2026).
Keputusan Musyawarah: Swadaya Masyarakat Jadi Solusi Utama
Dalam forum tersebut, kedua kepala desa sepakat untuk tidak menunggu bantuan penuh dari pemerintah daerah. Solusi yang diambil justru mengedepankan semangat gotong royong warga. Masyarakat diminta untuk berswadaya memperbaiki jembatan yang putus tersebut.
“Sengaja saya selaku kepala desa Noman Baru mengundang para bapak-bapak dan ibu-ibu hadir di kantor kepala desa ini. Kami mengajak bermusyawarah bagaimana juknis kita dalam menangani kerusakan jembatan gantung kita yang putus akibat banjir bandang kemarin,” ujar Kades Noman Baru, Musta Zama’a.
Ia menambahkan, musyawarah ini penting agar seluruh elemen desa bisa menemukan solusi terbaik. “Kiranya sudilah kita semua untuk bergotong royong memperbaiki akses transportasi kita sebagai jalur vital penghubung kedua desa ini,” imbuhnya.
Jembatan Ini Jalur Ekonomi dan Sosial Warga
Kades Noman, Abdul Sarif, menegaskan bahwa jembatan gantung tersebut bukan sekadar akses jalan. Lebih dari itu, jembatan itu menjadi urat nadi ekonomi warga. Hasil kebun seperti karet dan sawit, serta kebutuhan pokok sehari-hari, semuanya bergantung pada jembatan tersebut.
“Dalam hal ini, saya sebagai kades Noman sangat mendukung dan ikut mendorong masyarakat untuk merehab jembatan ini. Karena jembatan penghubung desa Noman dan Noman Baru ini adalah satu-satunya jalan untuk mengangkut hasil kebun dan merupakan jalan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” ungkap Abdul Sarif.
Ia berharap, dengan semangat kebersamaan, jembatan gantung yang putus itu bisa segera difungsikan kembali. Targetnya, pejalan kaki dan kendaraan roda dua bisa melintas lagi dalam waktu dekat.
Musyawarah Berjalan Lancar, Warga Sepakat Kerja Bakti
Kegiatan musyawarah yang berlangsung dari awal hingga selesai dilaporkan berjalan aman dan tertib. Seluruh peserta sepakat untuk bahu-membahu melakukan kerja bakti. Tidak ada perdebatan berarti, karena semua pihak sadar akan urgensi perbaikan jembatan ini.
Pemdes Noman dan Noman Baru kini mulai menyusun rencana teknis pengerjaan. Material bangunan seperti kayu, bambu, dan kabel baja mulai dikumpulkan dari swadaya warga. Pekerjaan perbaikan direncanakan dimulai pekan depan.
Banjir bandang yang melanda Kecamatan Rupit pada awal Mei lalu memang merusak sejumlah infrastruktur desa. Jembatan gantung Noman-Noman Baru menjadi salah satu yang paling parah terdampak. Kini, warga berharap semangat gotong royong bisa mengembalikan akses mereka seperti sedia kala.