PALEMBANG — Pasokan beras premium kemasan 5 kg di jaringan ritel modern Palembang mengalami penurunan hingga 80 persen dari kondisi normal. Kondisi ini terungkap dalam inspeksi mendadak (sidak) yang digelar Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) pada Selasa (1/9/2026).
Branch Merchandising Manager PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk Palembang, Ade Kosasih, menyebut ketersediaan beras premium di gerainya hanya berada di kisaran 10-15 persen. Padahal, biasanya stok mampu mencapai 70 persen dari kapasitas gudang.
Stok di Gudang Menyusut, Permintaan Tetap Tinggi
Sekretaris Daerah Sumsel Edward Candra mengakui stok beras premium kemasan 5 kg memang berkurang dari rutinitas biasanya. "Kita tidak bisa mengatakan dibatasi. Sejauh ini barangnya ada, hanya sedikit. Biasanya yang mereka masukkan itu lebih banyak, sekarang berkurang," ujarnya setelah meninjau gudang ritel.
Penurunan volume ini terjadi karena pasokan dari pabrik dan penggilingan beras ikut terbatas. Ade Kosasih mencontohkan, jaringannya yang melayani sekitar 600 gerai hanya menerima 1.000 pak beras premium kemasan 5 kg dan 400 pak kemasan 10 kg dalam satu kali pengiriman terakhir, padahal biasanya bisa mencapai 80 ton.
Biaya Produksi Naik, Petani Untung tapi Konsumen Tertekan
Keterbatasan stok salah satunya dipicu kenaikan harga plastik yang berdampak pada biaya produksi kemasan. Faktor lain yang turut mendorong harga adalah tingginya harga gabah di tingkat petani yang kini mencapai Rp 7.700 per kilogram.
Pimpinan Perum Bulog Kanwil Sumsel Babel Ihsan menjelaskan, dengan harga gabah tersebut, modal produksi beras premium bisa tembus sekitar Rp 16 ribu per kilogram setelah ditambah biaya produksi dan pengemasan. "Kalau harga di tingkat petani tinggi, di pasaran juga akan naik," imbuhnya.
Di sisi lain, Bulog mendapatkan gabah dengan harga Rp 6.500 per kg, yang dinilai masih memungkinkan untuk menjaga stabilitas harga. Ihsan juga mengusulkan agar distribusi gabah ke luar daerah disesuaikan dengan kondisi pasokan Sumsel.
TPID dan Polda Turun ke Pabrik
Untuk mencari solusi, TPID Sumsel bersama Polda Sumsel berencana mengecek langsung kondisi di tingkat produsen dan penggilingan. "Setelah ini, TPID juga akan melihat langsung ke pabrik. Kita akan melihat persoalan keterbatasan stok," kata Edward Candra.
Langkah ini diambil untuk memastikan apakah berkurangnya produksi murni karena kendala bahan baku atau ada faktor lain yang menghambat distribusi ke wilayah Sumatera Selatan.
Pemprov Minta Tambahan Pasokan SPHP Bulog
Sebagai langkah antisipasi, Pemprov Sumsel mendorong penambahan pasokan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Bulog. Beras tersebut dinilai efektif menjadi penyangga ketika stok beras premium di pasaran menipis.
"Kita mendorong penambahan beras SPHP, baik yang didistribusikan melalui depo-depo atau gudang maupun ke masyarakat secara langsung," jelas Edward. Selain itu, operasi pasar murah (OPM) dan gerakan pangan murah (GPM) akan terus digelar untuk memastikan masyarakat tetap mendapat akses beras dengan harga terjangkau.
Ade Kosasih sendiri menyebut pasokan beras SPHP kemasan 5 kg ke ritelnya relatif lancar, dengan penerimaan masih di atas 4.000 pak. Beras ini menjadi alternatif utama bagi konsumen yang sebelumnya mengandalkan beras premium.