Pencarian

Kemenag Sumsel Apresiasi Densus 88 Gelar Pembinaan 48 Mantan Anggota JI di Palembang dan OKI

Kamis, 17 September 2026 • 18:16:31 WIB
Kemenag Sumsel Apresiasi Densus 88 Gelar Pembinaan 48 Mantan Anggota JI di Palembang dan OKI

PALEMBANG — Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan menyatakan dukungannya terhadap pembinaan ideologi sehat dan moderat bagi kalangan mantan anggota Jamaah Islamiyah. Dukungan disampaikan menyusul terselenggaranya Kegiatan Transformasi Ideologi Wasathiyah yang digelar Densus 88 Anti Teror Polri Satgas Wilayah Sumsel.

Kegiatan bertajuk "Jalan Menuju Wasathiyah: Membangun Kesadaran Baru Ideologi Sehat dan Moderat" itu dibuka pada Rabu, 16 September 2026. Sebanyak 48 peserta mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Kota Palembang mengikuti pembinaan tersebut.

Syafitri Irwan: Moderasi Beragama Butuh Proses Terus-Menerus

Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sumsel Syafitri Irwan menyampaikan apresiasi kepada Densus 88 Anti Teror Polri atas pelaksanaan kegiatan itu. Menurutnya, menjaga kerukunan dan moderasi beragama membutuhkan proses panjang yang harus dilakukan secara konsisten.

"Kami menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Densus 88. Merawat kerukunan dan moderasi beragama harus berkelanjutan dan terus-menerus," ujar Syafitri.

Syafitri menjelaskan Kemenag terus memperkuat moderasi beragama lewat berbagai program pembinaan. Upaya itu dilakukan mulai dari penguatan wawasan aparatur sipil negara hingga edukasi kepada masyarakat luas.

Indeks Kerukunan Umat Beragama Nasional Disebut Terus Naik

Penguatan moderasi beragama dinilai memberikan dampak terhadap kehidupan sosial masyarakat. Peningkatan pemahaman keberagaman disebut menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga hubungan antarumat beragama.

"Komitmen ini membuahkan hasil nyata. Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) nasional terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun," katanya.

Syafitri mengingatkan keberagaman Indonesia merupakan bagian dari karakter bangsa yang harus dijaga bersama. Perbedaan suku, etnis, budaya, dan wilayah dinilai menjadi kekuatan yang mempererat persatuan.

Kritik Dianggap Bagian dari Proses Pembangunan Bangsa

Menurut Syafitri, keberagaman tidak diciptakan untuk memunculkan perpecahan. Perbedaan justru menjadi ruang untuk saling mengenal dan membangun kehidupan bersama dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

"Allah menciptakan kita berbeda-beda bukan untuk saling membenci atau bermusuhan, melainkan untuk saling mengenal. Pendiri bangsa kita dahulu berjuang keras merekatkan Indonesia hingga lahirlah Bhinneka Tunggal Ika," tuturnya.

Ia juga menyampaikan kritik terhadap perjalanan bangsa merupakan bagian dari proses pembangunan. Namun, penyampaian kritik harus dilakukan secara konstruktif tanpa mengganggu persatuan masyarakat.

"Negara tidak akan maju jika tidak dikritis," ujar Syafitri.

Syafitri menegaskan masyarakat perlu menjaga keseimbangan antara kebebasan menyampaikan pendapat dan tanggung jawab mempertahankan persatuan. Nilai kemanusiaan dan ketakwaan dinilainya menjadi bagian penting dalam kehidupan berbangsa.

Sejumlah Pejabat dan Tokoh Hadir dalam Pembukaan

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kasatgaswil Sumsel Densus 88 Anti Teror Kombes Polisi Beni Kusworo dan Direktur Intelkam Polda Sumsel Kombes Polisi Tony Budhi Susetyo. Hadir pula Kaban Kesbangpol Pemprov Sumsel Arinarsa JS, Sekretaris PWNU Sumsel, Ketua Baznas Sumsel, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Syafitri berharap pemahaman mengenai moderasi beragama dapat terus berkembang di seluruh lapisan masyarakat. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Follow palembangtoday.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: rri.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks