Sebanyak 353 personel gabungan dari TNI, Polri, Manggala Agni, hingga perusahaan swasta masih berjibaku menangani kebakaran hutan dan lahan di Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Operasi darat dan udara diperkuat sejak titik api pertama muncul pada Juli 2026, dengan tiga helikopter water bombing yang telah mencatatkan 345 sorti penerbangan. Hingga kini, tim gabungan membangun sekat bakar sepanjang 10 kilometer untuk mengisolasi pergerakan api.
MUARA MEDAK — Kepala KPH Lalan Mendis, Amiril, menyatakan pergerakan api yang sangat dinamis di lapangan menuntut koordinasi lintas sektor secara intensif dan berkesinambungan. Ia menekankan bahwa penanganan karhutla di Muara Medak membutuhkan sinergi solid dari seluruh unsur yang terlibat.
"Penanganan karhutla di Muara Medak membutuhkan sinergi yang solid. Dukungan personel, kesiapan peralatan, efektivitas pemadaman darat dan udara, serta pemblokiran penjalaran api harus berjalan serentak agar titik api tidak kian meluas," ujar Amiril.
Personel yang dikerahkan merupakan integrasi dari TNI, Polri, Manggala Agni XV/Muba, Regu Pemadam Kebakaran, Tim Reaksi Cepat, KPH Lalan Mendis, PT Rimba Hutani Mas, Kelompok Masyarakat Peduli Api, serta warga lokal. Operasi terpadu pada titik krusial ini sebenarnya telah digulirkan sejak kemunculan titik api pertama pada Juli 2026.
Puluhan Ekskavator Dikerahkan Buka Akses dan Sekat Bakar
Dalam operasi darat, petugas mengandalkan puluhan unit mesin pompa bertekanan tinggi, ratusan rol selang penyalur, serta 20 unit jet shooter. Sebanyak 57 unit ekskavator dan satu unit motor grader diterjunkan ke lokasi untuk membuka barikade akses serta memetakan sekat bakar.
Tim gabungan telah berhasil membangun sekat bakar sepanjang 10 kilometer dengan lebar mencapai 50 meter. Area penyekatan tersebut disiram secara berkala untuk mempertahankan kelembapan vegetasi dan tanah.
345 Sorti Water Bombing Sejak Helikopter Disiagakan 27 September
Guna mengoptimalkan penanganan dari udara, tiga unit helikopter pengebom air dikerahkan ke lokasi terdampak. Sejak disiagakan pada 27 September 2026, armada udara tersebut telah mencatatkan sedikitnya 345 sorti penerbangan gempuran air.
Cakupan wilayah operasi pemantauan, pembasahan, dan penyekatan oleh tim gabungan kini telah mencapai area seluas 5.800 hektare. Luasan tersebut mencerminkan skala penanganan yang tidak kecil, mengingat medan di Bayung Lencir dikenal memiliki lahan gambut yang rentan terbakar berulang.
Kodim 0401/Muba Imbau Warga Tidak Buka Lahan dengan Membakar
Komandan Kodim 0401/Muba, Letkol Inf. Dimas Kurniawan, mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan yang berpotensi memicu timbulnya titik api baru.
"Kami mengajak masyarakat untuk bahu-membahu memadamkan api serta mengawasi wilayah masing-masing agar tidak ada lagi oknum tak bertanggung jawab yang membuka lahan dengan cara membakar," tegas Dimas.
Pihak berwenang masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengidentifikasi penyebab awal munculnya api. Penanganan karhutla di Muara Medak masih berlangsung dengan melibatkan seluruh unsur gabungan di lapangan.