Pencarian

Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.894, Ditopang Lelang SRBI Rp30 Triliun

Senin, 12 Oktober 2026 • 10:50:02 WIB
Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.894, Ditopang Lelang SRBI Rp30 Triliun
Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis ke Rp17.894 per dolar AS pada perdagangan Senin pagi.

SUMATERA SELATAN — Nilai tukar rupiah dibuka menguat 5 poin atau 0,03 persen ke Rp17.894 per dolar AS pada perdagangan Senin pagi, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.899. Penguatan tipis terjadi saat lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia menyerap Rp30 triliun dan yield turun di seluruh tenor. Pasar masih mencermati indeks keyakinan konsumen serta penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera.

Analis Bank Woori Saudara (BWS) Rully Nova menyebut penguatan rupiah pagi ini ditopang dua faktor eksternal utama, yakni penurunan harga minyak mentah dan pelemahan indeks dolar AS.

"Rupiah hari ini diperkirakan menguat tipis pada kisaran Rp17.870-Rp17.900 dipengaruhi oleh global penurunan harga minyak dan indeks dolar," ujar Rully kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Harga Minyak dan Indeks Dolar AS Terkoreksi

Harga minyak mentah berjangka Brent turun 0,91 persen menjadi 103,95 dolar AS per barel. Indeks dolar AS juga terpangkas tipis ke level 102,2.

Penurunan kedua instrumen itu dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait kesepakatan energi dengan Rusia. Mengutip Sputnik, Rusia disebut siap memasok 300 ribu ton solar ke pasar global paling cepat Oktober, lalu naik menjadi 500 ribu ton pada November, dan 1 juta ton pada Desember.

Jika realisasi, volume pengiriman solar Rusia berpotensi mencapai 3 juta ton per bulan. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Trump sebelumnya melakukan pembicaraan melalui telepon, dengan Putin menegaskan kesiapan Rusia memasok minyak dan produk minyak bumi ke pasar AS maupun global.

Rusia juga akan mempercepat pencabutan pembatasan ekspor solar dari jadwal semula. Setelah pembatasan dicabut, pasar domestik Rusia diklaim akan terpenuhi sepenuhnya.

Lelang SRBI Serap Rp30 Triliun, Yield Turun

Dari sisi domestik, lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dinilai masih mampu menjaga stabilitas rupiah. Lelang tersebut menyerap Rp30 triliun dengan yield yang turun di seluruh tenor.

  • Tenor 6 bulan: yield turun menjadi 6,55 persen
  • Tenor 9 bulan: yield turun menjadi 6,52 persen
  • Tenor 12 bulan: yield turun menjadi 6,68 persen

Penurunan yield SRBI menandakan permintaan investor terhadap instrumen berdenominasi rupiah masih kuat. Instrumen ini menjadi salah satu alat BI menahan tekanan terhadap nilai tukar tanpa harus menaikkan suku bunga acuan.

Sentimen Domestik yang Masih Dibayangi Pasar

Meski ditopang faktor eksternal dan lelang SRBI, Rully mengingatkan masih ada dua sentimen domestik yang perlu dicermati pelaku pasar.

"Namun, indeks keyakinan konsumen dan penanganan bencana dan karhutla (kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera) masih menjadi perhatian pelaku pasar," ungkap Rully.

Indeks keyakinan konsumen menjadi indikator penting untuk membaca arah konsumsi rumah tangga, yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi. Sementara penanganan karhutla di Kalimantan dan Sumatera berkaitan langsung dengan risiko gangguan produksi dan distribusi sejumlah komoditas.

Bagi pelaku usaha yang memiliki eksposur dolar AS, pergerakan rupiah di kisaran Rp17.870-Rp17.900 membuka ruang untuk mencermati ulang strategi lindung nilai. Rentang tersebut masih tipis, namun arah yield SRBI dan harga minyak akan menentukan apakah penguatan berlanjut ke sesi berikutnya.

Follow palembangtoday.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sumsel.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks