SUMATERA SELATAN — Kebijakan penyesuaian harga BBM terbaru ini diumumkan pemerintah Bangladesh tanpa pemberitahuan sebelumnya, membuat warga semakin tertekan. Di Dhaka, antrean di beberapa SPBU sempat terlihat lebih panjang dari biasanya, meski belum ada laporan kelangkaan pasokan secara nasional.
Kenaikan yang terjadi dalam rentang waktu singkat ini menjadi pukulan telak bagi kelas menengah ke bawah. Seorang warga Dhaka yang diwawancarai SinPo.tv menyebutkan bahwa kenaikan harga BBM secara otomatis akan mendongkrak tarif transportasi umum dan harga bahan pokok.
“Ini sangat berat. Transportasi naik, harga kebutuhan pokok ikut naik. Kami tidak sanggup,” keluh warga tersebut dalam laporan yang dikutip pada Selasa (15/4).
Para pengemudi angkutan umum di Dhaka menjadi pihak yang paling langsung merasakan dampaknya. Mereka mengaku pendapatan harian tidak berubah, sementara biaya operasional kendaraan melonjak drastis. Jika tarif penumpang dinaikkan, jumlah penumpang justru berpotensi turun karena daya beli masyarakat yang melemah.
Di sektor logistik, kenaikan BBM dua kali dalam sebulan diperkirakan akan meningkatkan ongkos kirim barang antar kota. Hal ini berpotensi memperparah inflasi pangan yang sudah tinggi di Bangladesh sejak awal tahun.
Pemerintah Bangladesh belum memberikan pernyataan resmi mengenai penyebab kenaikan berturut-turut ini. Sejumlah analis menduga keputusan ini diambil untuk menekan subsidi energi yang membengkak akibat fluktuasi harga minyak global dan pelemahan nilai tukar Taka terhadap dolar AS.
Namun, tanpa sosialisasi dan jeda waktu yang cukup, kebijakan ini dinilai tidak populer dan berisiko memicu aksi protes dari serikat pekerja transportasi. Belum ada konfirmasi apakah akan ada skema kompensasi atau bantuan sosial langsung bagi warga terdampak.