PALEMBANG — Kenaikan harga Pertamax dinilai sebagai langkah berat yang tak terhindarkan dalam kondisi fiskal saat ini. Namun, ekonom menekankan agar beban penyesuaian tidak sepenuhnya jatuh ke masyarakat kelas menengah bawah dan kelompok rentan.
Fakhrul menegaskan bahwa pemerintah perlu menyiapkan bantalan ekonomi berupa bantuan langsung tunai. Bantuan ini ditujukan bagi kelompok yang paling terdampak oleh kenaikan biaya transportasi dan kebutuhan sehari-hari.
"Yang paling penting saat ini adalah memastikan masyarakat yang terdampak tidak menanggung seluruh beban penyesuaian tersebut," kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Menurut Fakhrul, kecepatan implementasi menjadi faktor kunci. Penyaluran bansos sebaiknya dilakukan segera setelah kenaikan harga berlaku agar konsumsi rumah tangga tidak turun terlalu dalam.
Ia menyarankan pemanfaatan teknologi seperti digitalisasi sistem pembayaran, integrasi data kependudukan dan perbankan, serta kecerdasan buatan (AI). Dengan cara ini, bantuan dapat disalurkan secara lebih cepat dan akurat kepada penerima yang berhak.
Di sisi lain, Fakhrul menilai penyesuaian harga BBM ini dapat berdampak positif terhadap stabilitas makroekonomi. Berkurangnya tekanan subsidi energi dan sinyal disiplin fiskal yang kuat akan memperbaiki persepsi pasar terhadap kesehatan ekonomi Indonesia.
Perbaikan fiskal juga berpotensi membantu stabilisasi nilai tukar rupiah yang belakangan menghadapi tekanan. Ketika pasar melihat pemerintah mampu mengendalikan risiko fiskal, tekanan terhadap rupiah akan berkurang dan arus modal dapat kembali masuk.
Fakhrul menyoroti pentingnya evaluasi dan reorganisasi terhadap berbagai program belanja negara. Ia secara khusus menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar tujuan sosialnya tetap tercapai dengan desain yang lebih efisien dan berkelanjutan.
"Yang terpenting adalah memastikan beban penyesuaian tidak jatuh sepenuhnya kepada masyarakat. Pemerintah perlu menunjukkan bahwa disiplin fiskal, perlindungan sosial, dan reformasi belanja negara dapat berjalan beriringan," ujar dia.
Apabila langkah tersebut berhasil, menurut Fakhrul, Indonesia tidak hanya akan memperoleh fiskal yang lebih sehat. Stabilitas ekonomi yang lebih kuat, rupiah yang lebih stabil, dan fondasi pertumbuhan berkelanjutan juga dapat terwujud ke depan.