Yayasan Cerah dan AJI Palembang Bekali Jurnalis Sumsel Liput Transisi Energi, Ada Beasiswa untuk 8 Wartawan

Penulis: Fakhrudin Akbar  •  Kamis, 18 Juni 2026 | 21:29:31 WIB
Jurnalis Sumatera Selatan mengikuti lokakarya transisi energi berkeadilan yang digelar Yayasan Cerah dan AJI Palembang.

Lokakarya bertajuk “Masa Depan Sumatra Selatan dan Transisi Energi Berkeadilan” ini menghadirkan empat pemateri: Dwiki Mahendra dari Yayasan Cerah, Sylvi Sabrina dari Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), jurnalis RMOL Sumsel Fajar Wiko, dan Boni Bangun dari HAKI Sumsel.

Mengapa Jurnalis Disebut Kunci dalam Transisi Energi?

Dwiki Mahendra menekankan peralihan dari batu bara ke energi terbarukan membawa dampak di sektor ekonomi, lingkungan, dan masyarakat. “Peran jurnalis sangat krusial dalam menyampaikan soal transisi energi ini. Dampak yang didapat tentu harus disampaikan agar transisi energi ini dapat menjangkau masyarakat, hingga pemangku kebijakan,” ujarnya.

Menurutnya, lokakarya ini diharapkan memberikan perspektif baru bagi wartawan, tidak hanya untuk wawasan pribadi tetapi juga menambah diksi dalam penulisan agar masyarakat lebih mudah memahami transisi energi.

Tumpang Tindih Kebijakan dan Tugas Jurnalis di Tengah

Sylvi Sabrina dari ICEL menyoroti masalah regulasi di Sumsel. “Banyak kita amati, terkadang antara peraturan dari Kementerian, Pemerintah Daerah hingga lapisan di bawahnya terkadang tidak sama,” katanya. Sosialisasi peraturan yang melancarkan transisi energi pun dinilai belum berjalan optimal.

Ia menambahkan, jurnalis justru bisa menjadi pihak yang berdiri di tengah—mengkaji sekaligus mensosialisasikan kebijakan yang tumpang tindih tersebut kepada publik.

Bahasa Teknis yang Rumit dan Ancaman Penolakan

Fajar Wiko, jurnalis RMOL Sumsel, memberikan pembekalan soal keselamatan kerja dan teknik penulisan. Ia menitikberatkan pada kemampuan wartawan menyederhanakan bahasa teknis yang melimpah di dunia transisi energi. “Jangan terlalu banyak bahasa teknis, sederhanakan sehingga masyarakat atau pembaca dapat paham betapa Transisi Energi dibutuhkan saat ini,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa liputan yang tidak hati-hati bisa memicu penolakan dari pemilik pabrik atau masyarakat. Menurutnya, komitmen tidak boleh berhenti di level jurnalis. “Sebaiknya organisasi profesi dan pihak terkait menggelar workshop mulai dari level jurnalis, editor, bahkan pimpinan perusahaan pers,” ungkapnya.

Transformasi Ekonomi: Untuk Pemerintah atau Rakyat?

Koordinator Perubahan Iklim Transisi Energi HaKI, Bonie Bangun, memaparkan tantangan dalam mengkampanyekan transisi energi sebagai paradigma baru. “Transisi energi itu memang berpengaruh terhadap Transformasi Ekonomi. Cuma kita cek dulu, apakah ini berpengaruh kepada pemerintahnya, atau rakyatnya,” katanya.

Para jurnalis yang hadir aktif bertanya dan mengaitkan materi dengan kasus yang mereka hadapi di lapangan. Selain lokakarya, Yayasan Cerah juga membuka beasiswa liputan bagi delapan jurnalis terpilih yang akan melalui proses seleksi oleh dewan juri dan pendampingan dari praktisi.

Reporter: Fakhrudin Akbar
Sumber: mattanews.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top