PALEMBANG — Keputusan Rapat Formatur DPW PKB Sumatera Selatan mengakhiri spekulasi soal siapa yang akan memimpin partai di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Nama H.M. Djakfar Shodiq akhirnya kembali mendapat mandat sebagai Ketua DPC PKB OKI untuk lima tahun ke depan.
Forum yang digelar di Palembang, Kamis (18/6/2026), itu sekaligus membalikkan hasil Musyawarah Cabang sebelumnya. Dalam Muscab, Farid Hadi Sasongko—yang kini menjabat Ketua DPRD OKI—sempat muncul sebagai ketua terpilih. Kehadiran utusan DPP PKB, Ahmad Iman Syukri, dalam rapat formatur menandakan keputusan ini mendapat restu pusat.
Bagi sebagian kader, pergantian nama di pucuk pimpinan bukan sekadar soal administrasi. Ada pertaruhan yang lebih besar: menjaga keseimbangan antara regenerasi dan stabilitas organisasi. Djakfar Shodiq bukan figur baru di lingkungan PKB OKI. Selama memimpin, ia dikenal memiliki jejaring yang kuat di kalangan kader maupun tokoh masyarakat.
Modal itulah yang disebut-sebut menjadi pertimbangan utama forum formatur. Seorang kader, Yadi Hendri Supriyadi, yang mengikuti dinamika internal partai, menilai pengalaman politik dan kemampuan menjaga komunikasi lintas kelompok menjadi nilai yang sulit diabaikan.
“Partai membutuhkan kepemimpinan yang mampu merangkul semua unsur. Yang dicari bukan hanya figur populer, tetapi juga kemampuan menjaga rumah besar ini tetap utuh,” ujarnya.
Meski kursi ketua kembali ditempati Djakfar Shodiq, kemunculan Farid Hadi Sasongko dalam proses Muscab meninggalkan pesan tersendiri. Figur yang kini menjabat Ketua DPRD OKI itu dinilai tetap memiliki posisi strategis dalam peta politik PKB daerah. Farid dianggap mewakili gelombang kader yang tumbuh dari proses regenerasi partai.
Kehadirannya menunjukkan bahwa ruang bagi generasi baru tidak tertutup, meski tongkat komando masih berada di tangan figur yang lebih berpengalaman. Keseimbangan antara pengalaman dan pembaruan itulah yang kini menjadi tantangan PKB OKI.
Di tengah kompetisi politik yang kian rapat, soliditas organisasi menjadi kata kunci yang berulang kali muncul dalam pembahasan internal partai. Sejumlah kader menilai keberhasilan partai tidak pernah bertumpu pada satu figur semata. Hal itu menjadi penanda arah yang hendak ditempuh PKB OKI setelah Muscab usai.
Menurut Yadi, kontestasi internal boleh berakhir dengan satu nama sebagai pemenang. Pekerjaan sesungguhnya baru dimulai ketika seluruh kader kembali duduk di meja yang sama dan mengayuh perahu ke tujuan yang serupa.
“Yang paling penting adalah bagaimana seluruh kader tetap bersatu dan bekerja bersama untuk membesarkan partai. Kepemimpinan yang solid akan menjadi modal utama PKB dalam menghadapi tantangan politik ke depan,” pungkasnya.