SUMATERA SELATAN — Gugatan class action yang diajukan sekelompok pelanggan YouTube TV terhadap Disney akhirnya mencapai titik terang. Dilaporkan ArsTechnica, Disney sepakat membayar US$ 50 juta untuk menyelesaikan perkara yang telah berlangsung sejak 2022. Meski begitu, perusahaan hiburan raksasa itu tidak mengakui kesalahan apa pun.
Uang ganti rugi ini akan dibagikan kepada siapa saja yang pernah berlangganan YouTube TV, DirecTV Stream, DirecTV Now, atau AT&T TV Now dalam periode 1 April 2019 hingga 31 Maret 2026. Artinya, pelanggan yang masih aktif hingga tiga tahun ke depan pun berhak mendapat bagian.
Inti permasalahan ada pada praktik distribusi saluran ESPN. Dalam dokumen gugatan yang diajukan akhir 2022, pelanggan menuduh Disney melakukan "perjanjian anti-persaingan" dengan mewajibkan mitra distribusinya—termasuk YouTube TV—memasukkan ESPN ke dalam paket dasar.
Akibatnya, harga paket dasar membengkak. Saat gugatan diajukan, biaya langganan YouTube TV sudah melonjak menjadi US$ 65 per bulan, naik drastis dari harga perdana US$ 35. Kenaikan itu terjadi setelah Disney menambahkan saluran miliknya, termasuk ESPN, ke dalam layanan.
Dalam unggahan di media sosial tahun 2021, YouTube TV secara implisit menyatakan bahwa paket dasar mereka akan lebih murah US$ 15 tanpa konten Disney. "Jaringan yang mewajibkan penyertaan seluruh portofolio saluran meningkatkan harga keseluruhan layanan," tulis akun resmi YouTube TV saat itu.
Kesepakatan damai ini juga memuat klausul yang mewajibkan Disney untuk "mempertimbangkan" menawarkan opsi paket saluran yang lebih sedikit—termasuk tanpa ESPN—kepada mitra distribusi seperti YouTube TV. Namun, tidak ada kewajiban tegas yang mengikat Disney untuk benar-benar menyediakan opsi tersebut.
Bagi pengguna Indonesia yang mungkin belum familiar, ESPN adalah jaringan olahraga global yang menyiarkan liga-liga top seperti NFL, NBA, hingga MLB. Karena biaya lisensi siarannya sangat mahal, penyertaan ESPN dalam paket dasar otomatis menaikkan harga langganan untuk semua pelanggan, termasuk yang tidak menonton olahraga sama sekali.
Ini bukan pertama kalinya YouTube TV dan Disney berseteru soal biaya konten. Pada akhir 2025, kedua perusahaan kembali terlibat perselisihan publik yang cukup panas. Seorang eksekutif YouTube TV menyebut Disney "tak perlu agresif" selama proses negosiasi. Akibatnya, saluran Disney sempat hilang dari YouTube TV selama hampir dua pekan hingga kesepakatan baru tercapai.
Meski kemenangan di pengadilan ini terasa manis bagi pelanggan, dampaknya terhadap tagihan bulanan kemungkinan besar tidak akan langsung terasa. Seperti diungkap dalam laporan, gugatan ini lebih bersifat memberikan kompensasi atas kenaikan harga di masa lalu, bukan mengubah struktur harga layanan ke depannya.