BPBD Sumsel Evaluasi Kesiapan 6 Helikopter dan Pesawat Patroli Hadapi Puncak Musim Kemarau 2026

Penulis: Fakhrudin Akbar  •  Kamis, 25 Juni 2026 | 18:05:01 WIB
BPBD Sumsel menggelar evaluasi kesiapan armada udara menghadapi puncak musim kemarau 2026.

PALEMBANG — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan memasuki fase kritis. BPBD Sumsel tidak hanya menggelar rapat koordinasi biasa, tetapi secara khusus memanggil seluruh operator helikopter dan pesawat patroli untuk memastikan armada udara siap tempur.

Rapat evaluasi yang dipimpin Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, itu berlangsung di Kantor BPBD Sumsel. Hadir pula perwakilan BNPB, Lanud Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Dinas Kehutanan Sumsel, Stasiun Klimatologi BMKG Sumsel, Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Sumsel, serta Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera.

Armada Udara: 1 Pesawat Patroli dan 5 Helikopter Water Bombing

Sumsel telah menyiapkan satu unit pesawat Cessna tipe C208B untuk patroli udara. Selain itu, satu unit helikopter patroli tipe AS 355 PK RTG dan lima unit helikopter water bombing disiagakan untuk pemadaman dari udara.

Ketersediaan armada ini menjadi ujung tombak penanganan karhutla, terutama di wilayah rawan yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Kecepatan deteksi titik panas dan respons pemadaman menjadi kunci agar kebakaran tidak meluas.

Fokus Evaluasi: Hotspot, Sumber Air, hingga Koordinasi Antarinstansi

Dalam rapat tersebut, sejumlah aspek menjadi perhatian serius. Mulai dari pemantauan hotspot, kesiapan armada udara, ketersediaan sumber air untuk operasi water bombing, hingga strategi pencegahan di daerah-daerah langganan karhutla.

Kehadiran BMKG dinilai krusial untuk memberikan informasi perkembangan cuaca dan potensi wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi. Data ini menjadi dasar bagi satgas untuk memetakan prioritas patroli dan pencegahan.

Sudirman: Keberhasilan Tergantung Deteksi Dini dan Sinergi

"Kesiapsiagaan harus terus ditingkatkan karena kondisi cuaca mulai mengarah ke musim kemarau. Seluruh unsur satgas harus memahami tugas dan perannya sehingga ketika terjadi kebakaran dapat segera ditangani," ujar Sudirman dalam rapat tersebut.

Menurutnya, keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya ditentukan oleh kecepatan pemadaman. Efektivitas deteksi dini, patroli lapangan, serta sinergi seluruh pihak yang terlibat menjadi faktor penentu.

Evaluasi ini menjadi langkah antisipatif menjelang puncak musim kemarau yang diperkirakan meningkatkan risiko kebakaran lahan di Sumsel. Wilayah yang selama ini menjadi langganan karhutla akan menjadi prioritas pengawasan dan pencegahan.

Reporter: Fakhrudin Akbar
Sumber: sumsel.akurat.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top