PALEMBANG — Sebuah jubah kuning oranye bermotif bunga milik Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) menjadi salah satu pusaka paling berharga yang akan dicatat dalam program digitalisasi naskah kuno Nusantara 2026. Jubah sepanjang 1,5 meter dengan lengan panjang dan robek kecil di bagian leher kanan itu selama ini tersimpan di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Palembang bersama akademisi filologi dari UIN Raden Fatah dan Manassa Pusat melakukan identifikasi dan pendaftaran koleksi kesultanan pada Kamis (25/6/2026). Rombongan dipimpin Kepala Dinas Agus Supriyanto dan diterima langsung oleh Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jayo Wikrama R.M. Fauwaz Diradja.
Selain jubah SMB II, tim juga mencatat sejumlah benda pusaka lain yang memiliki nilai sejarah tinggi. Al Quran tintas emas peninggalan era Kesultanan Turki Usmani, stempel Kesultanan Palembang Darussalam, serta silsilah kerajaan termasuk dalam daftar prioritas. Naskah-naskah kuno, keris, dan tombak juga akan difoto dan dialihmediakan.
“Kami sangat mendukung kerja sama ini, terutama dalam pendataan, pelestarian, dan digitalisasi berbagai pustaka serta benda-benda pusaka yang kami miliki,” ujar Sultan Mahmud Badaruddin IV dalam sambutannya.
Sultan berharap program ini tidak berhenti pada pendataan dan digitalisasi. Menurutnya, koleksi tersebut harus bisa diakses masyarakat luas, terutama generasi muda Palembang. “Melalui kolaborasi ini, masyarakat dapat lebih mengenal kekayaan sejarah dan budaya Palembang yang tersimpan dalam berbagai naskah dan koleksi bersejarah,” tambahnya.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Palembang, Agus Supriyanto, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga warisan budaya. “Kami berharap berbagai koleksi naskah kuno yang tersimpan dapat terus terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang,” katanya.
Proses identifikasi melibatkan Assoc Prof Dr. Hj. Nyimas Umi Kalsum, akademisi dan ahli filologi dari Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang, serta Dr. Agus Siswanto dari Manassa Pusat dan BRIN. Kehadiran mereka memastikan setiap naskah didokumentasikan dengan standar ilmiah yang tepat.
Selain Sultan, sejumlah tokoh adat turut hadir dalam pertemuan tersebut, di antaranya R.M. Rasyid Tohir, Dato’ Pangeran Nato Rasyid, Dato’ Pangeran Suryo Febri Irwansyah, Pangeran Mas’ud Khan, Raden Genta Laksana, Leni Mastuti, dan Ismail Gondrong. Kehadiran mereka menandai dukungan penuh pihak kesultanan terhadap program pelestarian ini.