Muchendi menekankan bahwa Rumah Adat OKI harus menjadi "rumah bersama" bagi warganya. Menurutnya, selama ini fungsi anjungan kerap hanya menjadi representasi fisik daerah tanpa aktivitas berkelanjutan.
"Rumah Adat OKI harus menjadi rumah bersama. Tempat masyarakat berkumpul, melestarikan budaya, mempromosikan produk daerah, sekaligus memperkuat identitas dan kebanggaan sebagai warga OKI," ujar Muchendi dalam keterangan yang diterima, Jumat (26/6).
Ia menambahkan, optimalisasi ini sejalan dengan upaya Pemkab OKI memperluas ruang pelestarian budaya di tengah masyarakat. Anjungan tak hanya untuk pameran, tapi juga pusat seni dan silaturahmi.
Festival yang diikuti 17 kabupaten dan kota se-Sumsel itu menjadi momentum menghidupkan kembali fungsi anjungan. Di anjungan OKI, pengunjung disuguhi aneka kuliner tradisional khas daerah aliran sungai dan rawa.
Beberapa hidangan yang ditampilkan antara lain gulo puan, serikayo ketan, kerupuk kemplang Kayuagung, kemplang panggang, dan pempek hitam. Produk wastra dan kerajinan unggulan juga dipamerkan, seperti songket Bidak Cukit, batik motif Perahu Kajang, serta anyaman purun Pedamaran.
Ketua Dekranasda Sumsel Feby Herman Deru yang mengunjungi anjungan OKI mengapresiasi upaya pemerintah daerah menampilkan kekayaan budaya lokal. Menurutnya, anjungan punya peran strategis sebagai ruang representasi budaya yang hidup.
Ke depan, Pemkab OKI menargetkan Rumah Adat OKI di Jakabaring bisa menjadi agenda tetap kegiatan seni dan budaya. Selain itu, ruang tersebut akan difungsikan sebagai etalase permanen produk UMKM binaan Dekranasda OKI.
Muchendi berharap, dengan fungsi baru ini, masyarakat OKI yang berada di Palembang maupun perantau memiliki titik kumpul yang representatif. "Ini juga cara kita memperkuat identitas dan kebanggaan sebagai warga OKI," pungkasnya.