PALEMBANG — Kabupaten OKI, yang memiliki lahan sawit rakyat sekitar 37 ribu hektare dari total 394.583 hektare perkebunan sawit, masih menghadapi tantangan produktivitas. Sekretaris Dinas Perkebunan dan Peternakan OKI, Hidayat, mengatakan sebagian pekebun belum sepenuhnya menerapkan teknik budidaya sesuai standar.
“Melalui pelatihan ini kami berharap para pekebun memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik sehingga produktivitas kebun rakyat dapat meningkat,” ujar Hidayat dalam keterangan yang diterima, Senin (7/7).
Ketua Kelompok Pemberdayaan dan Kelembagaan Direktorat Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Mula Putra, membeberkan data nasional. Saat ini luas perkebunan sawit Indonesia mencapai 16,8 juta hektare dengan produksi CPO sekitar 48 juta ton per tahun. Sekitar 42 persennya dikuasai pekebun rakyat.
Namun, produktivitas kebun rakyat masih berkisar 3,3 hingga 3,5 ton CPO per hektare per tahun. Angka itu jauh dari potensi produksi yang bisa mencapai 5 hingga 6 ton per hektare. “Pelatihan seperti ini menjadi investasi penting untuk meningkatkan kemampuan pekebun,” kata Mula Putra.
Selama enam hari di Hotel Emilia Palembang, para peserta tidak hanya dibekali teknik budidaya, panen, dan pascapanen. Mereka juga mendapatkan materi penguatan kelembagaan, kepemimpinan kelompok tani, hingga tata kelola usaha berkelanjutan.
Semua itu diarahkan pada satu tujuan: penerapan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2025 dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 33 Tahun 2025, perusahaan perkebunan wajib bersertifikasi ISPO paling lambat 2027, sementara pekebun rakyat ditargetkan pada 2029.
Sumatera Selatan sendiri merupakan salah satu lumbung sawit nasional dengan luas perkebunan sekitar 1,4 juta hektare. Di provinsi ini, Kabupaten OKI memegang peran strategis karena memiliki areal sawit terluas. Dari total lahan sawit di OKI, sekitar 49 perusahaan perkebunan mengelola sisanya.
Pemerintah menilai penguatan kapasitas pekebun di daerah ini menjadi prioritas. Selain mengejar target produktivitas, implementasi ISPO juga menjadi syarat agar produk sawit rakyat bisa diterima di pasar global yang semakin ketat aturan keberlanjutannya.
Mula Putra optimistis, dengan SDM yang terus digembleng, produktivitas perkebunan rakyat akan meningkat sekaligus mampu memenuhi standar keberlanjutan. “Dengan SDM yang semakin kompeten, kami optimistis produktivitas perkebunan rakyat akan meningkat sekaligus mampu memenuhi standar keberlanjutan yang menjadi tuntutan pasar global,” pungkasnya.