SUMATERA SELATAN — Kepastian soal insentif mobil listrik di Indonesia masih menggantung hingga saat ini. Alih-alih terus menanti, Changan Indonesia memilih bergerak lebih dulu dengan strategi harga yang realistis berdasarkan regulasi yang sudah berlaku.
Keputusan ini disampaikan langsung oleh Chief Executive Officer Changan Indonesia, Setiawan Surya, di Jakarta. Ia menegaskan bahwa pihaknya sejak awal tidak pernah memasukkan variabel subsidi dalam perhitungan harga jual ke konsumen.
Setiawan menjelaskan bahwa seluruh lini produk Changan saat ini masih menggunakan tarif PPN 12 persen sebagai dasar penetapan harga. Tidak ada skema khusus atau potongan harga yang dikaitkan dengan wacana insentif yang belum jelas realisasinya.
"Kita menghitung enggak ada perhitungan (insentif). Kita masih pakai PPN 12 persen sekarang. Dari awal juga yang S05, Lumin, and S07 juga kita enggak pakai perhitungan insentif. Kita sudah pakai 12 persen sampai saat ini," ujar Setiawan.
Setiawan secara terbuka mengaku pesimistis terhadap kemungkinan hadirnya insentif pada semester kedua tahun ini. Ia mengacu pada pemberitaan di berbagai media yang menunjukkan bahwa pembahasan kebijakan tersebut belum juga menemui titik terang.
"Nah ini kita sih berharap insentif ada. Tapi kalau sudah baca dari pemberitaan-pemberitaan di media juga kan, kita juga jangan berharap di semester dua ya. Ini juga dari berita yang saya peroleh," ungkapnya.
Kondisi pasar otomotif nasional saat ini menunjukkan adanya kecenderungan calon pembeli yang menahan transaksi. Mereka menunggu kepastian subsidi yang diharapkan bisa menurunkan harga beli kendaraan listrik.
Namun, Setiawan menilai bahwa keputusan menunda pembelian justru bisa menjadi bumerang. Ia mengimbau masyarakat, terutama di kota-kota besar, untuk mulai realistis dan tidak terlalu bergantung pada wacana insentif yang terus mundur.
"Ya harusnya sih customer mulai berpikir sih. Jadi ya jangan terlalu berharap dengan insentif lah," pungkasnya.
Menurut Setiawan, ketidakjelasan insentif ini tidak hanya berdampak pada Changan, melainkan juga seluruh pabrikan kendaraan listrik di Indonesia. Ia menilai situasi ini menjadi tantangan bersama yang harus dihadapi dengan strategi bisnis yang adaptif.
"Dampaknya sih ya kita menyesuaikan aja. Kalau memang insentif itu enggak ada kan berat. Kan insentif itu buat semuanya. Jadi semua merek juga kan enggak dapat. Jadi sama," jelasnya mengenai peta persaingan pasar.
Dengan keputusan ini, Changan Indonesia memilih untuk fokus pada nilai fungsional kendaraan bagi konsumen, ketimbang terus menanti kepastian kebijakan yang belum jelas. Deepal S05 yang baru saja membuka masa pemesanan pun tetap meluncur dengan skema harga tanpa subsidi.