Bending Spoons Resmi Melantai di Nasdaq, Valuasi Tembus Rp 400 Triliun Lebih

Penulis: Syaiful Bahri  •  Senin, 06 Juli 2026 | 13:40:31 WIB
Bending Spoons resmi melantai di Nasdaq dengan valuasi mencapai Rp 400 triliun lebih.

SUMATERA SELATAN — Bending Spoons mungkin tidak setenar produk-produk yang dimilikinya. Namun, portofolio perusahaan ini mencakup nama-nama besar seperti AOL, Vimeo, Evernote, Meetup, Eventbrite, WeTransfer, dan Issuu. Hingga Maret 2026, seluruh layanan mereka melayani lebih dari 500 juta pengguna aktif bulanan dan 9 juta pelanggan berbayar.

Pendapatan perusahaan pada 2025 tercatat mencapai USD 1,31 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa model bisnis mereka—yang kerap menuai kontroversi—terbukti mampu menghasilkan uang.

Strategi Bisnis: Akuisisi, PHK, dan Kenaikan Harga

Cara Bending Spoons mengelola perusahaan yang diakuisisi kerap memicu perdebatan. Pendekatan mereka mirip private equity: begitu membeli sebuah brand, mereka langsung melakukan efisiensi besar-besaran. Langkah ini mencakup PHK massal, perubahan fitur produk, hingga kenaikan harga layanan.

Salah satu contoh paling nyata adalah akuisisi Evernote pada 2022. Setelah resmi diambil alih, Bending Spoons memangkas tenaga kerja dan memangkas layanan versi gratis. Hal serupa terjadi pada WeTransfer yang diakuisisi Juli 2024. Di Desember 2025, salah satu pendiri WeTransfer, Nalden, secara terbuka mengkritik keputusan Bending Spoons.

Co-founder sekaligus Chief Product Officer Bending Spoons, Matteo Danieli, mengakui bahwa perubahan ini memang terasa berat bagi pengguna setia. "Produk seperti Evernote benar-benar dicintai oleh penggunanya," ujarnya kepada TechCrunch. Meski begitu, ia mengklaim retensi pelanggan tetap stabil secara "luar biasa".

Mengapa Mereka Membeli Perusahaan yang Dianggap 'Mati'?

Banyak pihak menyebut Bending Spoons sebagai pemburu perusahaan sekarat. Namun, Joe Hyrkin—yang menjual platform penerbitan digital Issuu ke Bending Spoons pada 2024—membantah narasi tersebut.

"'Brand internet lama' adalah kerangka berpikir yang salah," tulis Hyrkin di LinkedIn setelah IPO. "Mereka mengakuisisi produk dengan perilaku pelanggan nyata, lalu mengintegrasikannya ke dalam sistem terpusat yang mencakup produk, teknik, data, monetisasi, AI, dan disiplin operasional."

Yang membedakan Bending Spoons dari perusahaan private equity biasa adalah komitmennya untuk tidak menjual kembali brand yang sudah dibeli. "Kami bertujuan untuk memegang selamanya," klaim perusahaan dalam dokumen pencatatan sahamnya. Mereka membangun portofolio hidup, bukan kuburan teknologi.

Dari Startup Gagal ke Konglomerat Teknologi

Akar Bending Spoons justru bermula dari kegagalan. Perusahaan ini lahir dari reruntuhan Evertale, startup asal Kopenhagen yang ikut serta dalam Startup Alley di ajang Disrupt SF 2011. Evertale membangun aplikasi berbagi foto bernama Wink, namun tidak bertahan lama.

Setelah Evertale bangkrut, para pendiri dan beberapa karyawan tetap bekerja sama. Mereka mulai menggarap aplikasi internal, lalu melakukan akuisisi pertama. Sejak itu, strategi Bending Spoons terus diasah: mengidentifikasi produk populer yang bisa ditingkatkan, lalu membelinya dari pemilik yang sudah mentok.

Selama bertahun-tahun, perusahaan ini enggan menerima pendanaan ventura dan memilih bootstrapped. Pengecualian terjadi pada 2020 ketika mereka membuat Immuni, aplikasi pelacak kontak COVID-19 resmi Italia. Namun, pada 2022, 2024, dan 2025, mereka akhirnya melakukan penggalangan dana ekuitas. Investor mereka termasuk tokoh teknologi seperti Eric Schmidt, Mike Krieger, dan Xavier Niel, serta selebritas seperti Andre Agassi, Bradley Cooper, The Weeknd, dan The Chainsmokers.

Daftar Akuisisi Terbesar Bending Spoons

Meski sudah mengakuisisi beberapa perusahaan sejak 2014—termasuk aplikasi pengedit foto bertenaga AI, Remini—langkah besar baru terjadi dalam beberapa tahun terakhir:

  • 2022: Mengakuisisi Filmic (aplikasi edit video/foto populer) dan Evernote. Seluruh staf Filmic di-PHK pada Desember 2023.
  • 2024: Enam bulan pertama menjadi periode paling sibuk dengan akuisisi Meetup, Mosaic Group, dan StreamYard milik Hopin. Disusul Issuu dan WeTransfer pada Juli 2024.

Setelah setiap akuisisi, perubahan langsung terasa: batasan baru pada paket gratis, pemangkasan staf, dan penyesuaian fitur. Meski kontroversial, pendekatan ini terbukti menghasilkan pendapatan miliaran dolar dan valuasi pasar yang terus meroket. Bagi investor, Bending Spoons bukan sekadar pembeli brand mati—mereka adalah mesin efisiensi yang bekerja.

Reporter: Syaiful Bahri
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top