SUMATERA SELATAN — Erick Thohir menegaskan bahwa pembinaan pemain muda tidak bisa hanya berfokus pada level senior. Festival Grassroots Piala Presiden 2026, yang mempertemukan tim terbaik hasil seleksi regional dari berbagai daerah, menjadi bukti nyata upaya membangun ekosistem sepak bola nasional yang lebih kuat.
Turnamen yang berlangsung selama enam hari ini mempertemukan tim-tim seperti FBS Nusantara asal Banjar, Lambhuk FA dari Aceh, hingga Perspin dari Pinrang, Sulawesi Selatan. Para pemain muda ini telah melewati proses seleksi ketat di tingkat provinsi sebelum akhirnya berlaga di putaran final di Bantul.
Dalam sambutannya, Erick melakukan penyerahan bola kepada perwakilan pemain, menandatangani prasasti, dan melakukan tendangan pertama sebagai simbol dimulainya fase nasional kompetisi. "Piala Presiden tahun ini adalah bukti sepak bola menjadi alat pemersatu bangsa dan harus dibangun dari akar rumput," ujarnya.
Menurut Erick, melalui keterlibatan klub dari seluruh provinsi, Piala Presiden 2026 diharapkan bisa membuka kesempatan lebih luas bagi talenta muda dari berbagai daerah. Mereka bisa menunjukkan kemampuan di tingkat nasional, menjadi bibit pemain yang suatu hari memperkuat timnas Indonesia.
Festival ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan fondasi jangka panjang. "Pembinaan tidak bisa hanya berfokus pada pemain senior, tetapi harus dimulai sejak anak-anak mengenal sepak bola," tegas Erick di hadapan para peserta dan orang tua.
Antusiasme tinggi terlihat dari para orang tua yang mendampingi anak-anaknya. Mereka berharap turnamen seperti ini rutin digelar agar regenerasi pemain berbakat tidak terputus. Erick pun berkomitmen menjadikan festival ini sebagai agenda tahunan PSSI.