SUMATERA SELATAN — Banyak pemilik rumah yang mungkin bertanya-tanya, apakah cicilan KPR di bank saat ini sudah paling efisien? Jika tidak, BRI membuka pintu untuk memindahkan kredit tersebut ke bank pelat merah ini dengan penawaran yang lebih ramah di kantong.
Program ini bukan sekadar memindahkan sisa utang. Nasabah yang melakukan take over KPR ke BRI juga berhak mendapatkan fasilitas top up atau tambahan pinjaman. Dana segar ini bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari renovasi rumah, biaya pendidikan anak, hingga modal usaha kecil.
BRI menawarkan suku bunga spesial mulai dari 3,00 persen untuk periode tertentu. Angka ini tentu lebih rendah dibandingkan rata-rata bunga KPR di perbankan yang saat ini berkisar di angka 7-9 persen per tahun. Selisih bunga ini bisa membuat angsuran bulanan pemilik rumah menjadi jauh lebih ringan.
Program ini menyasar segmen nasabah yang sudah memiliki KPR di bank lain, namun merasa cicilannya terlalu besar atau jangka waktunya terlalu panjang. Dengan pindah ke BRI, mereka bisa mendapatkan suku bunga yang lebih kompetitif dan tenor yang lebih fleksibel.
Selain itu, pemilik properti yang membutuhkan dana tambahan untuk keperluan mendesak juga bisa memanfaatkan fitur top up. Alih-alih mengambil pinjaman baru dengan bunga konsumtif yang tinggi, mereka cukup mengajukan tambahan dana melalui KPR yang sudah ada.
Prosesnya relatif sederhana. Nasabah mengajukan permohonan ke BRI untuk melunasi sisa pinjaman di bank lama. Setelah itu, kredit tersebut dialihkan ke BRI dengan skema dan suku bunga baru. BRI akan menanggung biaya administrasi dan provisi dalam proses pengalihan ini, sehingga nasabah tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan di awal.
Nilai top up yang bisa didapatkan nasabah bergantung pada nilai appraisal properti dan sisa plafon kredit. Semakin tinggi nilai rumah dan semakin kecil sisa utang, semakin besar potensi dana tambahan yang bisa dicairkan.
Dengan langkah ini, BRI tidak hanya memperkuat portofolio kredit pemilikan rumah, tetapi juga membantu masyarakat mengelola keuangan rumah tangga secara lebih efisien. Di tengah tekanan inflasi dan kenaikan suku bunga acuan, memiliki cicilan KPR dengan bunga rendah menjadi salah satu cara menjaga stabilitas keuangan keluarga.