PALEMBANG — Indikator kekeringan bahan bakar permukaan tanah di Sumatera Selatan masuk kategori tinggi. Kondisi ini mendorong Balai Dalkarhut Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatera mengubah strategi patroli dari rutin menjadi intensif di titik-titik rawan.
Fine Fuel Moisture Code (FFMC) adalah indikator yang mengukur tingkat kekeringan material ringan di lapisan atas permukaan tanah. Material itu seperti humus, serasah daun kering, alang-alang, dan sejenisnya. Semakin kering material ini, semakin mudah api menyala dan menyebar.
"FFMC dari BMKG memberikan prediksi seminggu ke depan, tingkat kemungkinan kejadian kebakaran akan meningkat di seluruh Sumatera, termasuk di Sumsel," kata Kepala Balai Dalkarhut Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto di Palembang, Sabtu.
Balai Dalkarhut tidak hanya mengandalkan patroli darat. Mereka juga mengaktifkan patroli udara untuk memantau titik panas dari ketinggian. Jika terdeteksi visual api, informasi langsung dikirimkan ke perusahaan perkebunan dan hutan tanaman industri (HTI) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
"Kami akan menempatkan tambahan personel di sekitar Indralaya, kemudian frekuensi patroli kami tambah pada titik-titik rawan," ujar Ferdian.
Perusahaan-perusahaan di OKI, menurut Ferdian, sudah memiliki regu pengendalian kebakaran yang telah dilatih oleh Balai Dalkarhut. Jejaring ini diharapkan mempercepat respons saat api pertama kali muncul.
Meski cuaca panas dan angin kencang memperparah kondisi, Ferdian menegaskan bahwa faktor utama karhutla tetap berasal dari aktivitas manusia. Baik disengaja maupun karena kelalaian.
Ia mencontohkan pembakaran lahan atau sampah serta membuang puntung rokok di lahan gambut yang sangat kering. "Ketika disertai angin kencang dan melimpahnya bahan bakar alami di permukaan tanah, api bisa dengan cepat membesar," jelasnya.
Balai Dalkarhut mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran terbuka selama periode peningkatan potensi karhutla ini. Warga yang beraktivitas di sekitar kawasan hutan maupun lahan gambut diminta lebih berhati-hati.
Langkah pencegahan dini dari tingkat tapak dinilai lebih efektif dibandingkan pemadaman setelah api membesar. Dengan kondisi FFMC yang tinggi, satu puntung rokok di lahan gambut kering bisa menjadi bencana kabut asap lintas kabupaten.