SUMATERA SELATAN — Otoritas China bergerak cepat melakukan evakuasi massal saat Topan Bavi mencapai daratan. Provinsi Zhejiang, salah satu pusat ekonomi dan teknologi terbesar di China, menjadi wilayah yang paling parah terdampak dengan lebih dari 2,2 juta jiwa dipindahkan dari kawasan rawan. Hingga kini, pemerintah setempat belum melaporkan adanya korban jiwa.
Topan Bavi pertama kali menghantam kota pesisir Yuhuan pada malam 11 Juli sebelum kembali mendarat di Yueqing. Seorang warga Yueqing menggambarkan suara genteng dan ranting pohon yang terus patah diterpa angin kencang, sementara permukaan air naik hingga merendam jalan setapak di tepi kanal. Menurut laporan China Central Television (CCTV), lebih dari 1.300 pohon tumbang di Yueqing, dengan 700 pohon hancur total.
Di daerah pegunungan utara kota, hujan deras memicu tanah longsor yang mengakibatkan bongkahan batu besar berguling dari lereng. Banjir juga melumpuhkan transportasi: dua stasiun kereta utama di Hangzhou ditutup, Bandara Internasional Xiaoshan membatalkan 327 penerbangan, dan di Shanghai, lebih dari 1.600 layanan kereta serta hampir 700 penerbangan dibatalkan.
Seorang pemilik toko pengiriman berusia 72 tahun di kota nelayan Kanmen, Yuhuan, mengaku atap tokonya hancur dan jendela bangunan tetangganya pecah. Total kerugian yang dialaminya diperkirakan melebihi 6.000 yuan. Sebelum mencapai daratan China, Bavi juga menerjang Taiwan utara, melukai 134 orang dan memaksa pembatalan ratusan penerbangan.
Meski intensitasnya telah melemah menjadi badai tropis, Pusat Meteorologi Nasional China memperingatkan sirkulasi Bavi yang sangat besar—setara ukuran Prancis—masih berpotensi menyebabkan hujan meluas di China timur dan utara selama beberapa hari ke depan. Mulai 13 Juli, badai ini diperkirakan bergerak ke timur laut menuju Laut Kuning, namun tetap berisiko memicu curah hujan sangat lebat di provinsi Jilin, Liaoning, Hebei, Shandong, Jiangsu, dan Anhui.
Para ahli iklim memperingatkan kemunculan El Nino tahun ini dapat mempercepat intensifikasi badai dan menggeser lintasannya ke arah pantai China, meningkatkan frekuensi kejadian cuaca ekstrem.
Di Thailand, Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana (DDPM) mengeluarkan peringatan banjir akibat air pasang di Bangkok dan enam provinsi tengah. Dari 13 hingga 19 Juli, gelombang pasang diprediksi menyebabkan Sungai Chao Phraya dan sistem kanalnya meluap, mengancam pemukiman di dataran rendah. Risiko tertinggi diperkirakan terjadi antara pukul 18.00 hingga 22.00 setiap hari, terutama di komunitas di luar tanggul atau tanpa struktur pengendali banjir yang memadai.
Sementara itu, Bangladesh melaporkan sedikitnya 50 orang tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda negara tersebut dalam periode yang sama. Rentetan bencana ini menunjukkan betapa rentannya kawasan Asia terhadap dampak perubahan iklim yang kian nyata.