7 Tempat Baca dan Toko Buku Paling Asyik di Sumatera Selatan untuk Wisata Literasi

Penulis: Darmawan Iskandar  •  Rabu, 15 Juli 2026 | 13:47:01 WIB
Suasana ruang baca di Perpustakaan Nasional RI Wilayah Sumatera Selatan yang menyediakan koleksi buku lokal tentang budaya Sumsel.

Palembang bukan cuma kota jembatan dan sungai. Di sela hiruk-pikuk pasar tradisional dan pusat perbelanjaan, ada beberapa ruang yang sengaja dirancang untuk mereka yang mencari ketenangan lewat lembaran kertas. Tempat-tempat ini bukan sekadar gudang buku, melainkan persinggahan dengan karakter masing-masing.

Dari gedung tua berarsitektur kolonial hingga kafe yang menyulap sudutnya jadi perpustakaan mini, berikut tujuh tempat yang bisa kamu kunjungi. Catat, jam operasional dan harga bisa berubah, jadi selalu cek akun media sosial mereka sebelum berangkat.

1. Perpustakaan Nasional RI Wilayah Sumatera Selatan: Koleksi Lengkap di Pusat Kota

Berlokasi di Jalan Demang Lebar Daun, kompleks perkantoran Jakabaring, perpustakaan ini jadi salah satu andalan warga Palembang. Bangunannya yang cukup luas menyediakan ruang baca anak, dewasa, dan area digital. Koleksi buku lokal tentang budaya Sumsel lumayan lengkap, dari sejarah Kesultanan Palembang hingga kuliner tradisional.

Tips: Datang pagi hari di akhir pekan. Suasananya masih sepi, cocok buat kamu yang butuh konsentrasi penuh. Jangan lupa bawa kartu identitas untuk registrasi anggota.

2. Taman Baca Masyarakat (TBM) di Sekitar Benteng Kuto Besak

Beberapa komunitas literasi di Palembang rutin menggelar lapak baca gratis di area Benteng Kuto Besak (BKB) pada akhir pekan. Biasanya mereka membuka tikar dan kardus berisi buku bekas yang bisa dibaca di tempat. Kegiatan ini murni swadaya, tanpa tiket masuk. Tempatnya strategis, di pinggir Sungai Musi, jadi kamu bisa baca sambil menikmati angin sungai.

Tips: Cek Instagram komunitas seperti "Palembang Baca" atau "Komunitas Literasi Sumsel" untuk jadwal pasti. Bawa tikar kecil sendiri kalau ingin lebih nyaman.

3. Sudut Baca di Kedai Kopi Kertapati

Beberapa kedai kopi di daerah Kertapati mulai menyulap sudut kafenya menjadi rak buku mini. Konsepnya sederhana: pengunjung bisa meminjam buku yang tersedia, lalu mengembalikannya di tempat. Buku-buku yang ada biasanya sumbangan dari pelanggan tetap. Tempat seperti ini bukan toko buku, tapi lebih ke perpustakaan komunitas yang menyatu dengan budaya ngopi.

Tips: Tanyakan ke barista apakah ada program "buku untuk kopi" — biasanya ada diskon kecil kalau kamu bawa buku bekas untuk ditukar.

4. Toko Buku Tua di Pasar 16 Ilir

Di lorong-lorong Pasar 16 Ilir, ada beberapa lapak buku bekas yang sudah beroperasi puluhan tahun. Pedagangnya kebanyakan generasi kedua atau ketiga. Kamu bisa menemukan buku pelajaran lawas, novel-novel sastra Indonesia cetakan lama, hingga majalah tempo dulu. Harganya bervariasi, tergantung kelangkaan dan kondisi fisik buku.

Tips: Datang di pagi hari sebelum pasar terlalu ramai. Jangan ragu menawar, tapi lakukan dengan sopan. Bawa uang tunai karena sebagian besar pedagang belum menerima pembayaran digital.

5. Perpustakaan Universitas Sriwijaya (Unsri) Indralaya

Kampus utama Unsri di Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, punya perpustakaan pusat yang cukup representatif. Meski statusnya perpustakaan universitas, masyarakat umum bisa mengakses dengan prosedur tertentu. Koleksi jurnal ilmiah dan buku referensi tentang flora fauna Sumsel sangat lengkap. Bangunannya bertingkat dengan ruang baca yang tenang dan ber-AC.

Tips: Hubungi bagian humas Unsri dulu untuk prosedur kunjungan umum. Bawa laptop karena ada area hotspot Wi-Fi gratis untuk mahasiswa dan pengunjung terdaftar.

6. Pojok Baca Digital di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Palembang

Di Jalan Merdeka, dekat Masjid Agung Palembang, ada pojok baca digital yang dikelola pemerintah kota. Tempat ini menyediakan akses ke e-book dan jurnal online. Koleksi fisiknya terbatas, tapi koneksi internetnya lumayan kencang. Cocok buat perantau yang butuh tempat kerja sementara dengan suasana tenang.

Tips: Bawa kartu identitas dan isi buku tamu. Jam operasional mengikuti jam kerja kantor pemerintahan, jadi hindari datang pas jam istirahat siang.

7. Lapak Buku Keliling Komunitas "Baca di Musi"

Komunitas ini rutin mengadakan acara baca keliling dengan mobil pikap. Mereka singgah di titik-titik keramaian seperti Taman Kambang Iwak atau kawasan Jakabaring Sport City. Konsepnya sederhana: buku-buku ditata di bak mobil, pengunjung bisa membaca gratis di tempat. Kadang ada sesi dongeng untuk anak-anak.

Tips: Ikuti akun Instagram mereka untuk tahu jadwal dan lokasi terbaru. Acara biasanya digelar Sabtu atau Minggu sore.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah ada perpustakaan umum di Palembang yang buka 24 jam?
Sampai saat ini, belum ada perpustakaan umum di Palembang yang resmi beroperasi 24 jam. Sebagian besar tutup pada pukul 16.00-17.00 WIB. Pengecualian mungkin terjadi saat event tertentu seperti festival literasi.

Berapa biaya masuk ke perpustakaan umum di Sumsel?
Perpustakaan pemerintah seperti Perpustakaan Nasional Wilayah Sumsel tidak memungut biaya masuk. Cukup daftar sebagai anggota dengan fotokopi KTP. Untuk perpustakaan universitas, biasanya ada biaya administrasi kecil untuk pengunjung umum.

Di mana tempat jual buku bekas termurah di Palembang?
Pasar 16 Ilir dan sekitar Pasar Cinde jadi lokasi utama. Pedagang di sana menjual buku bekas mulai dari harga Rp5.000 untuk buku saku tipis. Tapi lagi-lagi, harga tergantung negosiasi dan kondisi buku.

Apakah ada toko buku yang menjual buku bahasa daerah Sumsel?
Beberapa toko buku di Palembang seperti di Jalan Sudirman kadang menyediakan buku berbahasa Palembang atau Melayu Palembang. Tapi stoknya terbatas dan tidak selalu tersedia.

Bagaimana cara bergabung dengan komunitas literasi di Palembang?
Cari grup Facebook "Komunitas Literasi Palembang" atau ikuti akun Instagram @palembangbaca. Mereka biasanya mengadakan open recruitment sukarelawan setiap awal tahun.

Mencari tempat baca di Sumatera Selatan tidak selalu soal gedung megah. Kadang, sudut paling asyik ada di lapak sederhana di pinggir sungai atau di rak buku kafe yang dikelola komunitas. Yang penting, kamu datang dengan niat untuk benar-benar membaca, bukan sekadar foto-foto.

Reporter: Darmawan Iskandar
Back to top