SUMATERA SELATAN — Amran mengungkapkan adanya pihak tertentu yang sengaja mengambil keuntungan dari rantai pasok ayam dan telur untuk kebutuhan MBG. Praktik ini dinilai menjadi biang kerok kenaikan harga yang terjadi setelah libur sekolah usai dan aktivitas belajar mengajar kembali normal.
"Ini harus SPPG atau dapur-dapurnya itu bila perlu langsung saja ke peternak. Dan itu nanti ditugaskan, dan tidak boleh ada lagi yang main-main," tegas Amran di kantornya, Senin (17/7).
Pemerintah telah menetapkan harga acuan pembelian untuk ayam di kisaran Rp 25.000 per kilogram dan telur Rp 26.500 per kilogram. Amran memastikan harga pembelian dari peternak tidak boleh jatuh di bawah angka tersebut.
"Jadi nanti dikontrol harganya tidak boleh di bawah harga pembelian pemerintah," ujarnya.
Untuk mengawal kebijakan ini, Amran menyebut pengendalian harga cukup dilakukan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Kepala BGN Sudaryono, tanpa perlu melibatkan Satgas Pangan. Kesepakatan ini sudah diraih dalam rapat koordinasi pagi tadi.
Amran menekankan peran strategis program MBG sebagai off-taker atau pembeli tetap hasil produksi pertanian. Dari total 160 juta petani, peternak, dan pekebun di Indonesia, MBG diharapkan menjadi penyelamat ketika harga anjlok di tingkat peternak.
"MBG adalah off-taker untuk produksi-produksi pertanian. Dari 160 juta petani, peternak, pekebun yang menjadi off-taker mereka. Jadi, MBG adalah off-taker komunitas pertanian," kata Amran.
Menurut Amran, selama ini terdapat kekeliruan dalam mekanisme pasokan. Ada celah yang dimanfaatkan oknum untuk mempermainkan harga di tengah rantai distribusi, dari peternak hingga ke dapur MBG.
"Jadi begini, ada orang tertentu mengambil keuntungan. Nah, ini harus yang dibereskan," kata Amran.
Dengan instruksi pembelian langsung dari peternak, pemerintah berharap margin keuntungan yang selama ini dinikmati tengkulak bisa dialihkan ke peternak sekaligus menekan harga di tingkat konsumen. Langkah ini menjadi krusial mengingat kebutuhan ayam dan telur untuk MBG terus meningkat seiring bertambahnya jumlah sekolah yang menjadi sasaran program.