Mengenal Tari Tradisional Sumatera Selatan: Jenis, Filosofi, dan Daerah Asalnya

Penulis: Redaksi  •  Selasa, 01 September 2026 | 15:25:31 WIB
Penari membawakan Tari Gending Sriwijaya, ikon penyambutan tamu kehormatan dari Palembang, Sumatera Selatan.

PALEMBANG — Provinsi Sumatera Selatan menyimpan kekayaan seni pertunjukan yang tumbuh subur di tengah masyarakat Palembang dan sekitarnya. Tarian tradisional di wilayah ini bukan sekadar suguhan visual, melainkan cerminan budaya yang membawa pesan penghormatan kepada tamu, nilai kehidupan keluarga, hingga jejak sejarah kawasan yang pernah menjadi pusat perdagangan dan kekuasaan.

Setiap gerakan dalam tarian ini menyimpan cerita dan filosofi tersendiri. Beberapa nama seperti Gending Sriwijaya yang identik dengan penyambutan, Tari Tanggai yang kental dengan simbol penghormatan, hingga Pagar Pengantin yang hadir memeriahkan pesta perkawinan, hanyalah sebagian dari sekian banyak warisan seni yang ada. Untuk memahami kebudayaan Sumatera Selatan secara menyeluruh, kita perlu melihat langsung bagaimana gerak, musik, busana, properti, dan ruang pentasnya menyatu.

Mengapa Tarian di Sumatera Selatan Begitu Beragam?

Luasnya wilayah serta sejarah pertemuan berbagai kebudayaan menjadi akar dari keragaman tari di Sumatera Selatan. Palembang yang tumbuh sebagai kawasan perdagangan mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang, sementara komunitas di luar Palembang memiliki sejarah, bahasa, dan lingkungan sosial yang berbeda.

Dengan kondisi tersebut, istilah "tari Sumatera Selatan" tidak bisa disamaratakan sebagai satu bentuk kesenian tunggal. Adakalanya tari berfungsi sebagai sarana penyambutan, sebagian lagi berkaitan erat dengan upacara perkawinan, dan tidak sedikit yang hadir dalam acara resmi atau pertunjukan budaya.

Tari Gending Sriwijaya: Ikon Penyambutan dari Palembang

Gending Sriwijaya merupakan karya budaya Sumatera Selatan yang paling populer dalam konteks penyambutan tamu kehormatan. Karya seni dari Kota Palembang ini telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 270/P/2014.

Pertunjukannya memiliki susunan yang khas. Berdasarkan catatan Warisan Budaya Kemendikbud, tarian ini biasanya menampilkan sembilan penari yang didampingi oleh dua pembawa tombak dan seorang pembawa payung. Penari yang berada di posisi terdepan akan membawa tepak berisi sirih pinang saat bergerak mendekati orang yang dihormati.

Makna Simbolis Tepak dalam Prosesi Penyambutan

Kehadiran tepak bukan sekadar properti pelengkap dalam tarian ini. Sirih dan pinang dalam tradisi Melayu-Nusantara memiliki sejarah panjang sebagai perlengkapan dalam tata pergaulan dan penghormatan. Ketika ditempatkan dalam prosesi tari, benda ini membantu menyampaikan pesan keramahan sekaligus menjadi bahasa penghormatan yang diterjemahkan melalui gerakan. Itulah sebabnya Gending Sriwijaya terasa semakin kuat maknanya ketika dipahami sebagai ungkapan etika menyambut tamu.

Tari Tanggai dan Keanggunan Gerak Penghormatan

Identik dengan Palembang dan Sumatera Selatan, Tari Tanggai kerap dihadirkan untuk menyambut tamu. Keindahan tarian ini tergambar melalui kelembutan gerakan tangan, postur tubuh yang anggun, serta penggunaan kuku tanggai yang menjadi ciri khas visualnya.

Ciri yang Mudah Dikenali

  • Penari umumnya tampil dalam kelompok.
  • Gerakan tangan menjadi pusat perhatian dalam setiap sesi.
  • Kuku tanggai menjadi elemen khas yang memperkuat karakter.
  • Penari mengenakan busana bernuansa adat Palembang.
  • Jenis tarian ini dapat hadir dalam acara penyambutan dan kegiatan budaya lainnya.

Melalui Tari Tanggai, terlihat bagaimana gerak tubuh mampu membawa pesan sosial. Tangan yang terbuka, gerak yang terukur, serta sikap tubuh yang anggun membangun suasana penuh penerimaan terhadap tamu.

Tari Pagar Pengantin: Pendamping Resepsi Perkawinan

Jika Gending Sriwijaya lekat dengan penyambutan tamu, maka Pagar Pengantin memiliki keterikatan kuat dengan pesta perkawinan. Kajian akademik yang membahas Tari Pagar Pengantin di Palembang menjelaskan bahwa tarian ini hadir sebagai pembuka dalam resepsi pernikahan. Penelitian tersebut mencatat bahwa karya tari ini diciptakan sekitar tahun 1960-an oleh Hj. Sukainah A. Rojak.

Hubungan Erat dengan Tradisi Perkawinan

Dalam kehidupan masyarakat Palembang, Pagar Pengantin kerap ditemukan pada resepsi perkawinan. Unsur geraknya disebut-sebut berkaitan dengan tari adat Sumatera Selatan lainnya, seperti Gending Sriwijaya, Tepak Keraton, Tanggai, Lilin Siwa, dan Penguton. Hal ini menunjukkan bahwa sebuah karya tari tidak selalu berdiri sendiri. Satu karya dapat menyerap unsur gerak dari tradisi yang lebih tua kemudian berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.

Tari Lilin Siwa dan Tepak Keraton

Khazanah tari Palembang juga diperkaya oleh Tari Lilin Siwa. Namanya yang berkaitan dengan lilin dan Siwa mencerminkan lapisan sejarah budaya dalam perkembangan seni pertunjukan kawasan tersebut. Tarian ini memiliki karakter yang berbeda dari tari penyambutan dan kerap disebut dalam berbagai pembahasan seni tradisional Palembang.

Sementara itu, Tepak Keraton juga dikenal dalam lingkungan tari tradisional Palembang. Nama "tepak" kembali mengingatkan pada tradisi penyambutan yang menjadikan tepak sebagai simbol penghormatan dan tata krama.

Nilai yang Terlihat

  • Menghormati tamu.
  • Menjaga kesopanan.
  • Mengutamakan kelembutan.
  • Menghadirkan simbol dalam upacara adat.
  • Menghubungkan seni dengan kehidupan sosial.

Tari Penguton juga termasuk dalam kelompok tari adat persembahan Sumatera Selatan. Kajian mengenai Tari Pagar Pengantin mencantumkannya bersama Gending Sriwijaya, Tepak Keraton, Tanggai, dan Lilin Siwa. Keberadaan beragam tari persembahan ini menegaskan kuatnya hubungan seni pertunjukan dengan tata cara menerima tamu.

Busana dalam Tari Tradisional Sumatera Selatan

Busana adalah bagian tak terpisahkan dari sebuah tarian karena membantu membentuk karakter pertunjukan. Tari Palembang umumnya menampilkan pengaruh kuat kain songket, aksesori kepala, hiasan tubuh, dan bentuk pakaian tradisional. Kilau benang songket kemudian membangun suasana formal dan meriah dalam setiap pementasan.

Unsur Busana yang Sering Dijumpai

  • Kain songket.
  • Aksesori kepala.
  • Perhiasan tradisional.
  • Kuku tanggai untuk jenis tari tertentu.
  • Selendang atau perlengkapan pelengkap.
  • Busana yang disesuaikan dengan fungsi tari.

Dalam konteks tradisional, pakaian bukan sekadar kostum panggung, melainkan bagian dari identitas dan simbol sosial masyarakat.

Musik Pengiring dan Properti Simbolik

Musik memegang peranan penting untuk membentuk tempo, suasana, dan karakter gerak dalam setiap tarian. Instrumen yang digunakan bisa berbeda sesuai jenis tari dan bentuk pertunjukan. Sebagai contoh, dalam kajian Tari Pagar Pengantin disebutkan penggunaan gendang dan kenong yang kemudian ditambah dengan accordion, gong, serta vokal. Seiring perkembangan zaman, musik tradisional juga dapat dipadukan dengan pengaturan panggung yang lebih kontemporer.

Properti yang digunakan dalam tari menyimpan fungsi simbolik. Tepak melambangkan penghormatan dan penyambutan, tanggai memperkuat karakter gerak jemari, nampan digunakan sebagai ruang simbolis dalam konteks Pagar Pengantin tertentu, serta payung dan tombak menjadi bagian dari susunan pertunjukan Gending Sriwijaya. Setiap properti membuat tari memiliki bahasa visual yang lebih kaya.

Fungsi Tari dalam Kehidupan Masyarakat

Tari tradisional dapat terus hidup karena memiliki fungsi yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Fungsi-fungsi tersebut antara lain:

Sebagai Sarana Penyambutan

Gending Sriwijaya dan Tanggai dikenal kuat dalam fungsi penyambutan. Melalui gerak tari, masyarakat menyatakan penghormatan kepada tamu yang datang.

Sebagai Pelengkap Perkawinan

Pagar Pengantin memiliki hubungan erat dengan resepsi perkawinan di Palembang. Penampilannya menempatkan tari sebagai bagian tak terpisahkan dari perayaan keluarga.

Sebagai Pertunjukan Budaya

Tari juga kerap ditampilkan dalam festival, kegiatan pemerintah, acara pendidikan, pertunjukan seni, serta kegiatan pelestarian budaya. Fungsi-fungsi tersebut membuat tari tetap memiliki ruang untuk berkembang tanpa kehilangan akar tradisionalnya.

Langkah Mengenalkan Tari kepada Generasi Muda

Pelestarian budaya tari tidak bisa hanya bergantung pada penyimpanan pakaian dan video pertunjukan semata. Tari perlu dipraktikkan, dipahami, dan diberi ruang untuk terus tampil. Beberapa langkah yang dapat diambil antara lain mengadakan sanggar tari di sekolah atau komunitas, mendokumentasikan koreografi dan musik, serta mengajarkan sejarah di balik setiap tarian.

Langkah selanjutnya adalah mengundang seniman lokal sebagai pelatih, menampilkan tari dalam kegiatan budaya, membuat dokumentasi digital yang mudah diakses, serta mengajarkan penggunaan properti dengan benar. Memberikan konteks mengenai etika ketika tari digunakan dalam acara adat juga merupakan langkah penting. Pendekatan ini dibutuhkan agar generasi muda tidak hanya mengenal nama tarian, tetapi memahami alasan di balik setiap gerakan dan simbol yang dipertahankan.

Tempat untuk Mengenal Seni Tari Sumatera Selatan

Bagi yang ingin mengenal tari Sumatera Selatan secara lebih dekat, Palembang menjadi titik awal yang menarik. Kegiatan kebudayaan, sanggar seni, museum, festival daerah, dan pertunjukan resmi dapat menjadi ruang untuk melihat tari secara langsung. Data kebudayaan pemerintah juga mencatat karya budaya Sumatera Selatan, termasuk status Warisan Budaya Takbenda yang disandang Gending Sriwijaya.

Menonton pertunjukan secara langsung tentu memberikan pengalaman berbeda dibandingkan sekadar menonton video. Irama musik, gerak kelompok, kilau songket, serta suasana penyambutan akan terasa sebagai satu kesatuan yang utuh dan memukau.

FAQ Seputar Tari Tradisional Sumatera Selatan

Apa tari tradisional yang paling terkenal dari Sumatera Selatan?

Gending Sriwijaya dan Tanggai termasuk yang sangat dikenal, khususnya dalam konteks penyambutan. Pagar Pengantin juga populer karena berkaitan erat dengan acara perkawinan.

Apa fungsi Tari Gending Sriwijaya?

Gending Sriwijaya berfungsi sebagai tari penyambutan. Berdasarkan data Warisan Budaya Indonesia, susunan pertunjukannya menampilkan sembilan penari, pembawa tombak, pembawa payung, serta tepak berisi sirih pinang.

Apakah Tari Pagar Pengantin hanya untuk Palembang?

Tari Pagar Pengantin sangat kuat kaitannya dengan Palembang dan Sumatera Selatan, terutama dalam resepsi perkawinan. Perkembangannya juga tercatat berlangsung di daerah lain di Sumatera Selatan.

Mengapa kuku tanggai digunakan dalam tari?

Kuku tanggai memperkuat karakter visual dan gerak jari dalam Tari Tanggai. Bentuknya yang khas membuat gerakan tangan terlihat lebih panjang, lembut, dan ekspresif.

Apakah semua tari Sumatera Selatan berasal dari masa kerajaan?

Tidak. Sejarah setiap tari berbeda. Ada karya yang berakar dari tradisi lama, sementara ada pula yang diciptakan atau dikembangkan pada masa yang lebih modern.

Setiap gerakan dalam tarian tradisional Sumatera Selatan menyimpan cara masyarakat menyampaikan penghormatan, kasih sayang, kegembiraan, dan identitas. Dari tepak yang disodorkan kepada tamu hingga gemerlap songket dalam pesta perkawinan, tari menjadi bahasa budaya yang terus hidup. Selama dipelajari dan dipentaskan dengan pemahaman, tarian tradisional Sumatera Selatan akan tetap memiliki tempat di panggung masa kini tanpa kehilangan denyut sejarahnya.

Reporter: Redaksi
Back to top