PALEMBANG — Herman Deru turun dari kendaraannya begitu melihat antrean truk mengular di depan SPBU Kebun Bunga. Ia menanyakan langsung penyebab panjangnya antrean BBM bersubsidi yang membentang dari Jalan Simpang Bandara hingga Jalan Noerdin Pandji.
Kepada petugas SPBU, gubernur mempertanyakan keterlambatan pasokan solar yang membuat antrean menembus badan jalan. Petugas saat itu mengaku belum mengetahui penyebab pasti keterlambatan pengiriman.
Sejumlah sopir truk yang ditemui di lokasi menyebut mereka sudah mengantre solar sejak malam hari. Mereka harus menunggu belasan jam untuk mendapatkan BBM bersubsidi tersebut.
Herman Deru menyoroti kondisi itu karena antrean kendaraan menjalar hingga ke ruas jalan sekitar SPBU. Ia menilai situasi tersebut membebani sopir angkutan yang menggantungkan penghasilan dari operasional harian.
Untuk memastikan persoalan segera ditangani, Herman Deru menghubungi Region Manager Retail Sales Pertamina Patra Niaga, Ayub Ritto. Dalam komunikasi itu, ia meminta pasokan BBM, khususnya Pertalite dan solar, segera dikirim ke SPBU.
"Ini jam 7 malam sudah habis, kemarin sudah sempat bagus, dinormalkan lagi, Pak Ayub. Tolong, kasihan orang," ujar Herman Deru saat menelepon Ayub Ritto.
Sebelumnya, gubernur juga mempertanyakan keterlambatan pengiriman kepada petugas SPBU. "Ini telat kirim? Kenapa solar antre sampai Jalan Kebun Sayur (Noerdin Pandji) tadi?" tanya Herman Deru kepada salah seorang petugas SPBU.
Herman Deru mengaku kecewa karena persoalan antrean BBM sebelumnya sempat teratasi. Kondisi serupa kembali terjadi sehingga masyarakat, terutama sopir kendaraan angkutan, harus menunggu dalam waktu lama.
Ia menegaskan pentingnya memastikan kelancaran distribusi BBM bersubsidi agar masyarakat tidak dirugikan akibat antrean panjang. Pemerintah Provinsi Sumsel berharap koordinasi dengan Pertamina segera menghasilkan solusi.
Yang paling dinantikan warga dan sopir truk di Kebun Bunga: ketersediaan solar dan Pertalite di SPBU kembali normal, tanpa antrean yang menembus jalan raya.