IHSG Uji Support 6.478 Usai Koreksi 2,88% Sepekan, Asing Net Sell Rp 1,82 Triliun

Penulis: Khairul Anwar  •  Senin, 21 September 2026 | 08:20:01 WIB
Papan digital menampilkan pergerakan IHSG di level 6.478,65 pada pembukaan pekan keempat September 2026.

SUMATERA SELATAN — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan keempat September 2026 di level 6.478,65 setelah terkoreksi 2,88% sepanjang pekan lalu. Investor asing membukukan penjualan bersih Rp 1,82 triliun sepekan, dengan tekanan terbesar di sektor keuangan dan infrastruktur. Rentang 6.460–6.480 kini menjadi area pertahanan krusial yang menentukan arah indeks sesi berikutnya.

Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) bursa bertahan di Rp 12,85 triliun meski indeks bergerak dari kisaran 6.670 ke penutupan 6.478,65. Tekanan jual asing terkonsentrasi pada saham-saham big-cap perbankan dan infrastruktur, seiring pelaku pasar mencermati transisi kepemimpinan di Kementerian Keuangan dan uji coba transaksi short selling Bursa Efek Indonesia (BEI).

Rentang 6.460–6.480 Jadi Penentu Arah Rebound

Riset MNC Sekuritas dan Phintraco Sekuritas memetakan IHSG berada di akhir fase koreksi minor. Rentang 6.460–6.480 berperan sebagai demand zone yang harus dipertahankan pada Sesi I.

Jika indeks bertahan di atas level itu, IHSG berpeluang membentuk technical rebound menuju resistance terdekat 6.540–6.580. Penembusan ke bawah 6.460 membuka risiko tekanan lanjutan ke level psikologis 6.420.

Katalis yang Dibutuhkan untuk Pulihkan Arus Asing

Samuel Sekuritas dan KB Valbury menyoroti komitmen defisit anggaran APBN tetap di bawah 3% sebagai syarat utama pemulihan foreign inflow. Kesinambungan pembiayaan utang di bawah kendali Menteri Keuangan baru disebut menjadi faktor penentu kepercayaan investor terhadap pasar SBN dan saham.

Posisi IHSG yang berada di area oversold membuka ruang strategi buy on weakness pada saham perbankan big-cap dan konsumer bervaluasi terdiskon. Namun volatilitas tinggi masih rawan terjadi pada 30 menit awal Sesi I akibat penyesuaian pasar regional, sehingga alokasi kas disarankan dijaga di level 20–25%.

Rupiah Bergerak di Rp 17.595–Rp 17.625 per Dolar AS

Nilai tukar Rupiah mengawali pekan pada kisaran Rp 17.595–Rp 17.625 per Dolar AS, dibandingkan penutupan pekan lalu di Rp 17.615/USD. Indeks Dolar (DXY) bertahan di 104,20 dan yield US Treasury tenor 10 tahun di 4,22%, menahan laju apresiasi mata uang emerging Asia.

BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan Bank Indonesia melanjutkan strategi triple intervention melalui pasar spot, DNDF, dan pasar sekunder SBN. Langkah itu ditujukan menjaga fluktuasi kurs tidak melampaui level psikologis Rp 17.650.

Kestabilan kurs di bawah Rp 17.650 menjaga kepastian margin emiten farmasi dan konsumer yang memiliki eksposur impor bahan baku. Emiten berbasis ekspor komoditas perlu mewaspadai volatilitas selisih kurs pada laporan keuangan kuartal III.

Harga Minyak Bertahan di Atas US$ 106 per Barel

Harga minyak mentah global bertengger di atas US$ 106 per barel, menjadi salah satu faktor yang menahan laju penguatan Rupiah. Harga emas batangan Antam berada di level Rp 2.592.000 per gram pada prapembukaan, sementara emas spot internasional (XAU/USD) bergerak di kisaran US$ 2.448 per ons.

Tingginya harga komoditas energi internasional memperkuat risiko imported inflation yang harus dimitigasi Bank Indonesia. Di sisi lain, kondisi ini menjadi katalis positif bagi emiten sektor energi seperti MEDC yang masuk dalam daftar pantauan riset sekuritas.

Saham Pilihan Sesi I: BMRI, BBRI, MEDC, ASII

Konsensus riset prapembukaan dari Ajaib, Stockbit, IPOT, Mirae Asset, dan CGS International menempatkan saham perbankan big-cap dan energi sebagai fokus perdagangan Sesi I. Berikut panduan teknikal dan rencana aksi untuk saham unggulan:

  • BMRI — saham perbankan big-cap dengan valuasi terdiskon, menjadi salah satu kandidat buy on weakness di area support.
  • BBRI — perbankan dengan likuiditas tinggi, pergerakannya masih tertekan tekanan jual asing di sektor financials.
  • MEDC — diuntungkan lonjakan harga minyak mentah global di atas US$ 106 per barel.
  • ASII — saham konsumer yang masuk radar akumulasi bertahap seiring pelemahan indeks.

Pelaku pasar institusi mencermati efektivitas uji coba transaksi short selling BEI terhadap likuiditas dan efisiensi pembentukan harga. Regulator bursa dan OJK diharapkan mengawasi potensi tekanan jual spekulatif berlebih pada saham-saham penggerak indeks selama periode uji coba berlangsung.

Reporter: Khairul Anwar
Sumber: stabilitas.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top