SUMATERA SELATAN — Penguatan IHSG sepanjang periode 31 Agustus-4 September 2026 terjadi di tengah meningkatnya aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Data BEI menunjukkan rata-rata volume transaksi harian melonjak 35,9% menjadi 48,99 miliar lembar saham dibandingkan pekan sebelumnya yang hanya 36,05 miliar lembar.
Pelaksana Harian Sekretaris Perusahaan BEI, Aulia Noviana Utami Putri, mengatakan peningkatan aktivitas perdagangan ini sejalan dengan penguatan indeks. "Rata-rata volume transaksi harian BEI mengalami peningkatan tertinggi sebesar 35,9% menjadi 48,99 miliar lembar saham dari 36,05 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya," jelasnya dalam keterangan resmi, Jumat (4/9).
Asing Masih Net Sell Rp 68 Triliun Secara Kumulatif
Meski mencatatkan pembelian bersih dalam sepekan terakhir, posisi investor asing secara year-to-date masih menunjukkan aksi jual yang masif. Data BEI mencatat total nilai pembelian saham asing mencapai Rp 32,58 triliun, sementara nilai penjualan tercatat Rp 30,27 triliun sepanjang pekan lalu.
Secara kumulatif sepanjang 2026, investor asing masih membukukan net sell sebesar Rp 68,05 triliun. Angka ini mengindikasikan bahwa aliran dana asing yang masuk pekan lalu belum cukup untuk mengkompensasi aksi jual besar yang terjadi sejak awal tahun.
Kontribusi Saham Bank Jumbo Capai 60 Poin Lebih
Kenaikan IHSG tidak terlepas dari pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi kontributor terbesar dengan kenaikan 6,27% yang menambah 29,19 poin terhadap indeks.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyusul dengan penguatan 3,47% dan menyumbang 19,85 poin. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) naik 4% dan memberikan kontribusi 13,88 poin. Jika digabungkan, ketiga saham bank tersebut menyumbang lebih dari 60 poin terhadap total kenaikan IHSG sepanjang pekan.
Selain sektor perbankan, sejumlah saham lain juga turut mendorong penguatan indeks. Berikut beberapa di antaranya:
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik 10,53%, menambah 7,35 poin
- PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) melonjak 33,85%, berkontribusi 6,61 poin
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menguat 16,05%, menambah 6,24 poin
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) naik 4,23%, menyumbang 5,28 poin
BYAN dan VKTR Jadi Pemberat Utama IHSG
Di sisi lain, penguatan IHSG tertahan oleh koreksi pada beberapa saham berkapitalisasi besar. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi pemberat terbesar setelah turun 5,32% dan menekan indeks sebesar 12,63 poin.
PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) juga terkoreksi 10,36% dengan kontribusi negatif 6,15 poin. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) turun 6,72% dan menekan IHSG 5,82 poin, disusul PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang melemah 4,67% dengan tekanan 5,21 poin.
Dari sisi nilai transaksi, BBRI menjadi saham paling aktif diperdagangkan dengan total nilai Rp 4,65 triliun. BBCA menyusul dengan Rp 4,43 triliun dan BMRI sebesar Rp 4,07 triliun. BUMI dan CUAN juga masuk lima besar dengan nilai transaksi masing-masing Rp 3,45 triliun dan Rp 3,42 triliun.
Public Expose Live 2026: Momentum Cermati 45 Emiten
Memasuki pekan ini, BEI akan menggelar Public Expose Live 2026 pada 7-11 September 2026. Kegiatan yang diselenggarakan bersama Self-Regulatory Organization (SRO) ini merupakan bagian dari peringatan HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia.
Sebanyak 45 perusahaan tercatat akan memaparkan kinerja, strategi, dan prospek bisnisnya secara virtual kepada investor. Aulia menegaskan bahwa agenda ini menjadi salah satu yang perlu diperhatikan investor untuk mendapatkan informasi langsung dari manajemen emiten.
"Public Expose Live 2026 terbuka bagi seluruh masyarakat, termasuk investor dan calon investor, serta dapat diikuti secara gratis," ujar Aulia. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi investor untuk mencermati langsung prospek bisnis emiten sebelum mengambil keputusan investasi pada pekan perdagangan berikutnya.